Rusia mengambil langkah signifikan pada 25 Maret 2026 dengan mengumumkan rencana evakuasi personel dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr di Iran. Alexei Likhachev, kepala Rosatom, perusahaan energi nuklir negara Rusia, mengatakan akan dilakukan "beberapa putaran evakuasi personel" dari fasilitas tersebut, menurut laporan kantor berita negara Tass yang dikutip The New York Times.
Langkah ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran Rusia terhadap keamanan aset nuklirnya di tengah perang yang sedang berlangsung. Sehari sebelumnya, sebuah proyektil menghantam area fasilitas Bushehr, dan insiden serupa juga dilaporkan terjadi pada pekan sebelumnya. Rusia membantu mengoperasikan pembangkit listrik tersebut .
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow terus berkomunikasi dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengenai situasi tersebut. "Kami terus berkomunikasi dengan IAEA tentang situasi ini," kata Peskov seperti dikutip Tass .
Sementara itu, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) sebelumnya telah menyatakan bahwa mereka mengetahui serangan di dekat fasilitas nuklir Israel dan Iran. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi berulang kali menyerukan pengendalian militer maksimum, terutama di sekitar fasilitas nuklir. Evakuasi personel Rusia dari Bushehr menambah daftar kekhawatiran internasional tentang risiko kecelakaan nuklir di tengah konflik yang semakin intensif.

