Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Rupiah Melemah, Perajin Tempe dan Tahu di Jakarta Barat Terpaksa Kecilkan Ukuran produk

Ulfa Safira23 Mei 202623.40 WIB
Rupiah Melemah, Perajin Tempe dan Tahu di Jakarta Barat Terpaksa Kecilkan Ukuran produk

SUARBERITA.COM - Gejolak ekonomi global dan melemahnya rupiah terhadap dolar AS membuat harga kedelai impor naik dan berdampak pada perajin tempe serta tahu di Kompleks Kopti Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Kondisi ini memaksa pelaku usaha menyesuaikan strategi agar harga jual tetap terjangkau, salah satunya dengan mengecilkan ukuran produk.

Faris (32), perajin tempe di lokasi tersebut, mengatakan penyesuaian ukuran dilakukan untuk menjaga daya beli pelanggan di tengah kenaikan biaya produksi. Ukuran tempe yang ia buat kini dibuat lebih kecil dibanding sebelumnya.

“Makanya harus ada strategi kayak tadi tuh, dikurangin ukurannya supaya jadi lebih terjangkau. Biasanya ukuran 35x12 sentimeter gitu misalnya, ini jadi 30x10 sentimeter lah paling,” ujarnya, dilansir dari Kompas.com, Jumat (22/5/2026).

Ia mengaku kenaikan harga kedelai cukup terasa karena usahanya memproduksi sekitar 80 kilogram tempe per hari, dengan harga bahan baku yang sudah mencapai sekitar Rp 11.000 per kilogram.

“Kerasa juga ya, kalau belinya 50 kilo, naiknya Rp 3.000, sudah Rp 150.000 tambahannya. Yang tadinya ya pokoknya nambahnya bisa Rp 100.000 lebih, Rp 200.000 lebih. Dari yang seharusnya jadi simpanan, malah jadi ditambahin buat modal lagi,” lanjutnya.

Selain itu, ia menilai seluruh kedelai yang digunakan masih bergantung pada impor sehingga sangat dipengaruhi nilai tukar dolar.

Hal serupa juga dilakukan Abdul Azis, pedagang tahu di lokasi yang sama. Ia menyesuaikan ukuran tahu agar tetap sesuai dengan kenaikan biaya bahan baku.

“Karena kita mengikuti harga beli bahan baku kedelainya juga. Kami dengan adanya kenaikan harga bahan baku ini, kita mengurangi ukuran si tahu ini. Jadi semisal saya 5x5 (sentimeter), kita paling kurangin di 4,5x4,5,” ujarnya

Sementara itu, distributor kedelai Riyanto menyebut kenaikan harga dipicu faktor global dan ketegangan geopolitik, yang turut memengaruhi harga impor. Ia mencatat harga kedelai saat ini berada di kisaran Rp 10.800 per kilogram, dan kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus terus menyesuaikan biaya produksi di lapangan.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!