Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Rumah Penuh Sejarah dr. Sardjito Dijual untuk Hindari Konflik Warisan

Moh Wasil Haqqullah17 Mei 202613.00 WIB
Rumah Penuh Sejarah dr. Sardjito Dijual untuk Hindari Konflik Warisan

SUARBERITA.COM - Ahli waris Pahlawan Nasional dr. Sardjito sepakat menjual rumah peninggalan di Jalan Cik Di Tiro Nomor 16, Terban, Yogyakarta. Keputusan ini diambil demi menghindari potensi perselisihan keluarga di masa depan mengenai pengelolaan warisan, mengingat hak waris kini sudah jatuh ke tangan generasi ketiga (cucu almarhum), yaitu Alita dan Dyani Poedjioetomo.

Budhi Santoso, pengurus rumah tangga berusia 70 tahun yang telah merawat aset tersebut selama 46 tahun, menyatakan bahwa ahli waris di Jakarta sudah tidak mampu merawatnya.

Menurut Budhi Santoso "Dengan berat hati saya sampaikan kepada para ahli waris, dan mereka setuju kalau ini dilepas. Saya berharap yang membeli adalah orang terbaik." Dikutip dari kompas.com, Sabtu (16/05/2026).

Rumah klasik berubin merah mengkilap ini memiliki nilai historis tinggi karena pernah menjadi tempat diskusi tokoh besar seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sri Sultan HB IX, hingga ayah Presiden Prabowo. Di rumah ini pula, dr. Sardjito merintis resep jamu tradisional untuk mengobati istrinya, Soeko Emmi. Budhi mengaku terpukul jika rumah penuh memori ini berubah fungsi menjadi tempat komersial seperti kafe. Oleh sebab itu, ia telah menawarkan properti tersebut kepada 10 pihak, termasuk Wali Kota Yogyakarta, serta sangat berharap Universitas Gadjah Mada (UGM) atau Universitas Islam Indonesia (UII) mau membelinya.

Meski terpaksa dilepas karena kendala generasi, keluarga berharap rumah rektor pertama UGM dan mantan rektor UII ini jatuh ke tangan yang tepat. Jika dibeli oleh UGM atau UII, bangunan ini diharapkan dapat dialihfungsikan menjadi museum, rumah dinas, atau Puskesmas guna melestarikan semangat sosial dr. Sardjito.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!