SUARBERITA.COM -
Ribuan migran nekat menyeberang dari Maroko menuju wilayah otonom Spanyol, Ceuta, dalam beberapa hari terakhir. Sebagian dari mereka berenang melewati laut menggunakan ban pelampung atau alat seadanya untuk menghindari pagar perbatasan, sementara lainnya mencoba masuk melalui jalur darat.
Lonjakan arus migran membuat pemerintah Spanyol memperketat pengamanan dengan mengerahkan ratusan personel tambahan dari kepolisian dan militer. Fasilitas penampungan di Ceuta juga dilaporkan mulai kewalahan akibat tingginya jumlah pendatang.
Presiden Ceuta, Juan Jesús Vivas, menyebut situasi yang dihadapi wilayahnya sangat serius.
“Ceuta is facing an unprecedented humanitarian and security emergency,” kata Vivas, dikutip dari Reuters.
Ia menilai lonjakan migran kali ini bukan hanya menjadi persoalan kemanusiaan, tetapi juga tantangan besar bagi keamanan dan kapasitas layanan publik di Ceuta.
Menurut laporan Reuters, sebagian besar migran berasal dari Maroko, sementara lainnya berasal dari negara-negara Afrika Sub-Sahara. Mereka memanfaatkan jalur laut untuk mencapai pantai Ceuta yang menjadi salah satu pintu masuk ke wilayah Uni Eropa.
Pemerintah Spanyol menyatakan akan terus memperkuat pengawasan di perbatasan dan bekerja sama dengan otoritas Maroko untuk mengendalikan arus migrasi. Sementara itu, operasi penyelamatan di laut masih berlangsung guna mencegah bertambahnya korban jiwa setelah sejumlah migran dilaporkan meninggal dunia saat mencoba menyebrang.
Peristiwa ini kembali menyoroti Ceuta sebagai salah satu titik paling sensitive dalam jalur migrasi menuju Eropa, di mana gelombang kedatangan migran kerap meningkatkan ketika kondisi pengamanan di perbatasan melemah atau dipengaruhi aktivitas jaringan penyelundupan manusia.

