SUARBERITA.COM – Dalam rangka menjawab informasi yang simpang siur, Prabowo Subianto selaku Presiden Republik Indonesia baru saja mengadakan diskusi bersama jurnalis senior dan pengamat di kediaman pribadinya, Hambalang, Bogor. Diskusi tersebut dilaksanakan pada Selasa (17/3) malam.
Dalam pertemuan yang berlangsung selama sekitar 3 jam, terdapat beberapa topik yang dibahas seperti geopolitik, ekonomi, dan hukum. Salah satu hal yang menarik perhatian yaitu respons Presiden Prabowo saat ditanya kebebasan berpendapat yang dianggap terbatas.
Dikutip dari akun resmi Narasi, jurnalis Najwa Shihab bertanya, “Apakah Bapak bisa memahami kekhawatiran bahwa ruang aman untuk bersuara jadi makin menyempit, Pak?”
Presiden Prabowo menjawab, “Anda merasakan tidak? Dibandingkan banyak negara, apa yang kita batasi? Coba lihat! TikTok, media sosial lainnya, fake news, hoaks, dan kebohongan yang disiarkan setiap hari tanpa mengecek fakta.”
Lebih lanjut, Prabowo mengatakan bahwa terkadang ada peristiwa yang didramatisasi untuk memprovokasi, meskipun tidak semua peristiwa demikian. Prabowo juga menjelaskan bahwa hal tersebut mengarah untuk menggiring opini rezim otoriter.
Menanggapi hal tersebut, Najwa mengatakan, “Spekulasi tersebut biasanya muncul ketika tidak ada jawaban dari korban suatu masalah, Pak. Jadi, muncul persepsi publik bahwa ada unsur negara yang bermain.”
Prabowo merespons, “Saya ini korban juga (dalam konteks tahun 1998), tapi kita harus waspada terhadap hal demikian. Saya menjamin tidak ada rakyat yang diintimidasi karena mengkritik pemerintah.”
Moderator Hasan Nasbi akhirnya mencukupkan tanya jawab antara jurnalis Najwa Shihab dan Presiden Prabowo Subianto karena pernyataan pemerintah dinilai sudah tegas dan jelas bahwa tidak ada kebebasan berpendapat yang menyempit.
