SUARBERITA.COM - Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Fathul Wahid, menyampaikan penolakannya terhadap rencana pelibatan kampus dalam pengelolaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, perguruan tinggi seharusnya tetap fokus pada fungsi utama sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Fathul menilai kampus tidak tepat dijadikan pelaksana program teknis pemerintah karena dikhawatirkan dapat memengaruhi independensi serta daya kritis civitas akademika terhadap kebijakan negara.
“Kampus harus tetap menjaga sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah,” ujarnya, dikutip dari Tempo.com.
Ia juga menyoroti besarnya anggaran MBG yang dinilai berpotensi mengurangi ruang pendanaan sektor lain, terutama pendidikan. Selain itu, ia mempertanyakan ketepatan sasaran program agar bantuan benar-benar diterima kelompok yang membutuhkan.
Fathul mengatakan perguruan tinggi masih memiliki banyak pekerjaan penting, seperti meningkatkan kualitas riset, memperkuat ekosistem akademik, dan mendorong daya saing global. Karena itu, kampus dinilai tidak semestinya difokuskan untuk mengelola dapur MBG.
“Perguruan tinggi lebih penting memperkuat kualitas pendidikan dan riset,” lanjutnya.
Sebelumnya, pemerintah mendorong perguruan tinggi ikut terlibat dalam program MBG, termasuk membangun dan mengelola dapur layanan gizi. Namun, Fathul mengaku hingga kini belum menerima arahan resmi terkait kebijakan tersebut di kampusnya.

