SUARBERITA.COM - Salah satu faktor utama untuk aktivitas mendaki gunung adalah kondisi kesehatan diri, kejujuran 'sang pendaki' sangatlah di perlukan. Seperti kejadian baru-baru ini pada Kamis, 14 Mei 2026, Pendaki asal Sukabumi, Jawa Barat, bernama Endang Subarna, pria usia 49 tahun, meninggal dunia saat melakukan pendakian di Gunung Rinjani melalui jalur Sembalun, Lombok Timur, NTB.
Dari keterangan pers, Kasi Humas Polres Lombok Timur, Iptu Lalu Rusmayadi mengatakan, korban mulai melakukan pendakian bersama rombongan yang berjumlah 28 orang pada pukul 08.00 Wita. “Mereka didampingi Tracking Organizer (TO) berangkat melalui pintu masuk pendakian Kandang Sapi,”
Sebelum kejadian, korban terlihat sangat aktif dan menyemangati rekan-rekannya selama perjalanan. Sekitar pukul 16.00 Wita, rombongan tiba di Bukit Penyesalan Sembalun. Di lokasi itu, korban tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri. Pihak Tracking Organizer kemudian langsung menghubungi petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani yang berada di Pos Pelawangan Sembalun.
Petugas TNGR bersama Tim Edelweis Medical Help Center (EMHC) segera menuju lokasi untuk memberikan pertolongan pertama. Di lokasi kejadian, tim medis melakukan pemeriksaan kondisi korban dan memberikan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau pijat jantung selama kurang lebih 30 menit. Namun, korban tidak menunjukkan respons meski upaya pertolongan telah dilakukan. Setelah di evakuasi ke pos II kemudian diperiksa oleh dokter puskesmas, dr. Lalu Riski Andri Saputra dan dinyatakan bahwa yang bersangkutan telah meninggal dunia.
Ketua Tim World Class Mountaineering TNGR, Budi Soesmadi mengingatkan pentingnya kejujuran pendaki terkait kondisi kesehatan melalui surat keterangan sehat sebelum melakukan pendakian. "Kami juga melarang pendaki yang memiliki riwayat penyakit bawaan seperti, jantung, asma, hipertensi, ambien, vertigo dan penyakit lainnya yang dapat kambuh atau mengkhawatirkan saat pendakian, berbahaya untuk keselamatan mereka," kata Budi.

