SUARBERITA.COM - Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan pentingnya penguatan sistem peringatan dini polusi udara. Pasalnya, penguatan harus didsarkan pada data terpadu guna melindungi masyarakat dari dampak kesehatan akibat pencemaran udara.
Pernyataan itu disampaikan dalam Seminar Nasional Sistem Peringatan Dini Polusi Udara. Acara tersebut diselenggarakan di Universitas Indonesia bersama Research Center for Climate Change (RCCC) UI di Hotel Borobudur Jakarta.
Dante menggambarkan kondisi polusi udara di Jabodetabek melalui fenomena gunung yang hanya terlihat jelas setelah hujan deras. Menurutnya, kabut abu-abu yang kerap menutupi pandangan merupakan polusi udara yang setiap hari dihirup masyarakat.
“Di hari-hari biasa gunung itu tidak terlihat karena tertutup kabut abu-abu. Kabut itulah polusi udara yang ada di sekitar kita setiap hari,” terangnya dikutip dari kemenkes.go.id, Selasa (19/5/2026).
Lebih lanjut menjelaskan, polusi udara menjadi ancaman serius bagi seluruh kelompok usia. Anak-anak rentan terkena pneumonia dan gangguan tumbuh kembang. Sedangkan lansia menghadapi risiko penurunan fungsi organ. Penderita penyakit kronis dan pekerja luar ruangan juga terancam penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Dante mengatakan Kementerian Kesehatan terus memperkuat transformasi kesehatan melalui langkah promotif, preventif dan kesiapan layanan kesehatan. Tantangan terbesar saat ini, kata Dante, belum adanya sistem data terpadu yang menghubungkan kualitas udara dengan dampak kesehatan.
“Celah inilah yang menjadi peluang kita untuk sama-sama memperkuat sistem peringatan dini melalui integrasi data yang kuat,” tukasnya.
Seminar tersebut dihadiri akademisi, peneliti, pemerintah daerah serta pegiat lingkungan dan kesehatan dari wilayah Jabodetabek.

