SUARBERITA.COM - Menjelang Hari Raya Idul Adha, peternak sapi lokal di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, mengeluhkan turunnya penjualan hewan kurban akibat membanjirnya pasokan sapi dari luar daerah.
Sis Mulyono, peternak yang telah menjalankan usaha hampir 10 tahun, mengatakan penjualan sapi tahun ini merosot dibanding tahun sebelumnya. Jika biasanya ia mampu menjual 25 hingga 30 ekor sapi menjelang Idul Adha, kini hanya tujuh ekor yang terjual.
"Tahun-tahun kemarin kalau tidak ada sapi dari luar datang, menjelang Lebaran Haji kita bisa mengeluarkan di atas 25 sampai 30 ekor. Sekarang, saya baru bisa mengeluarkan cuma tujuh ekor saja," ujar Mulyono dilansir dari Kompas.com
Ia yang memiliki sekitar 35 ekor Sapi Bali berharap pemerintah daerah dapat mengatur arus masuk sapi dari luar wilayah agar peternak lokal tetap memiliki ruang pasar.
"Kami pendapatan berkurang karena ada yang datangkan sapi dari luar daerah," lanjutnya.
Kondisi serupa juga dialami Rozi, peternak di wilayah perbatasan Jamaimu dan Klamalu, Kabupaten Sorong. Selain tekanan pasar, ia juga menghadapi kendala dalam pengembangbiakan ternak, terutama keterlambatan ketersediaan semen beku untuk program Inseminasi Buatan (IB).
Menurut Rozi, keterbatasan stok IB berdampak pada produktivitas ternak karena siklus birahi sapi betina yang terbatas.
"Siklus birahi sapi betina itu sangat terbatas. Jika saat sapi betina meminta kawin namun stok bibit IB di dinas kosong, maka kesempatan tersebut hangus. Peternak harus menunggu lama lagi untuk siklus berikutnya, dan ini jelas merugikan waktu serta produktivitas kami," ujarnya
Para peternak berharap pemerintah tidak hanya mengendalikan distribusi sapi dari luar daerah, tetapi juga memberi dukungan seperti bantuan bibit ternak dan ketersediaan IB secara berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas peternak lokal.

