SUARBERITA.COM - Presiden FIFA Gianni Infantino kini menjadi pusat perhatian publik setelah menempuh perjalanan ekstensif menggunakan jet pribadi untuk menghadiri puluhan pertandingan Piala Dunia 2026 di tiga negara tuan rumah secara langsung.
Berdasarkan laporan The Independent dikutip pada Senin (20/7/2026). Gianni Infantino tercatat menyaksikan 43 pertandingan sepanjang turnamen Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Untuk menunjang mobilitas tingginya, ia memanfaatkan fasilitas jet pribadi jenis Gulfstream G650 milik Pemerintah Qatar.
Data situs pelacak penerbangan FlightAware mengungkapkan bahwa Infantino menghabiskan total 115 jam di udara dengan jarak jelajah mencapai 95.403 kilometer, mendarat di 21 bandara, serta mengunjungi 16 stadion. Bahkan pada 18 hari pertama turnamen, ia telah menyaksikan 25 pertandingan secara langsung, dengan Stadion Hard Rock di Miami menjadi lokasi paling sering dikunjungi sebanyak lima kali.
Namun, mobilitas udara intensif ini memicu kritik keras dari para aktivis lingkungan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa emisi karbon yang dihasilkan dari penerbangan jet pribadi Infantino selama periode dua minggu diperkirakan setara dengan jejak karbon tahunan sekitar 78 orang. Besarnya emisi karbon ini dinilai bertolak belakang dengan komitmen keberlanjutan lingkungan yang gencar dikampanyekan FIFA.
Meski diterpa kritik seputar efisiensi dan dampak ekologis, posisi politik Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA tahun depan dilaporkan tetap sangat solid. Lebih dari 200 dari total 211 asosiasi anggota FIFA dikabarkan telah menyerahkan surat dukungan pribadi guna memastikan keberlanjutan posisi kepemimpinannya hingga agenda pelaksanaan Piala Dunia 2030 secara penuh pada periode masa jabatan berikutnya tersebut nanti.
Penggunaan jet pribadi oleh Gianni Infantino berhasil mendukung kehadirannya di 43 pertandingan Piala Dunia 2026 secara efisien. Meskipun memicu sorotan luas terkait dampak emisi karbon terhadap lingkungan, kondisi tersebut nyatanya tidak mengganggu posisi politiknya, terbukti dari kuatnya dukungan mayoritas asosiasi anggota FIFA untuk memperpanjang masa jabatannya pada pemilihan presiden mendatang.

