SUARBERITA.COM - Pemerintah Kabupaten Probolinggo terus berupaya memodernisasi tata kelola pariwisata di kawasan Gunung Bromo. Melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar), pemerintah daerah melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) secara intensif pada pertengahan Mei 2026. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa sistem retribusi tiket masuk secara daring (online) berjalan optimal dan memberikan kemudahan bagi para pengunjung.
Kegiatan evaluasi lapangan yang berlangsung selama dua hari ini dipimpin langsung oleh Kepala Disporapar Probolinggo, Heri Mulyadi. Dalam pelaksanaannya, Disporapar bersinergi dengan Satpol PP, Dinas Perhubungan, otoritas kecamatan setempat, serta komunitas operator jeep wisata. Fokus utama dari peninjauan ini adalah memastikan setiap pelancong telah menyelesaikan pembayaran retribusi melalui situs resmi sebelum mencapai pintu masuk kawasan Bromo.
Heri menjelaskan bahwa digitalisasi tiket ini bertujuan untuk menciptakan tertib administrasi dan akurasi data kunjungan. Selain mempermudah layanan, sistem daring ini juga memberikan jaminan kepastian bagi wisatawan, termasuk mempermudah proses klaim asuransi jika terjadi insiden yang tidak diinginkan.
Di titik kontrol strategis, seperti pertigaan Desa Wonotoro, petugas melakukan pemeriksaan ketat terhadap barcode tiket. Wisatawan yang belum memiliki tiket akan diarahkan kembali ke pos pembelian digital di Desa Jetak demi menjaga alur masuk tetap teratur dan mencegah penumpukan kendaraan.
Lebih lanjut, Heri menyatakan “Monitoring dan evaluasi dilakukan sebagai tindak lanjut penerapan regulasi kewajiban pembayaran retribusi wisata secara daring sebelum wisatawan memasuki kawasan Gunung Bromo," kata Heri Mulyadi di Probolinggo. Dikutip dari m.antaranews.com (16/05/2026).
Transformasi ke sistem tiket daring merupakan langkah strategis Pemerintah Kabupaten Probolinggo dalam menghadirkan layanan pariwisata yang lebih profesional dan transparan. Dengan pengawasan berkala melalui monev, diharapkan hambatan teknis di lapangan dapat diminimalisir, sehingga kenyamanan wisatawan terjaga dan ekosistem pariwisata Gunung Bromo menjadi semakin tertata di era digital.

