SUARBERITA.COM - Transisi status kepegawaian
tenaga pendidik di Indonesia memasuki babak baru seiring dengan rencana
penghapusan tenaga honorer secara nasional. Di Kota Magelang, tantangan ini
menjadi prioritas utama pemerintah daerah mengingat masa kerja guru non-ASN
akan resmi berakhir pada 31 Desember 2026. Situasi ini menuntut langkah taktis
agar proses belajar mengajar di sekolah negeri tetap berjalan kondusif tanpa
kendala kekurangan personel.
Berdasarkan data
terkini, terdapat sedikitnya 24 guru honorer yang kontraknya akan habis, namun
angka ini diprediksi meningkat seiring adanya guru yang memasuki masa pensiun.
Menanggapi hal tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang telah
menyiapkan skenario mitigasi. Langkah pertama adalah melakukan redistribusi
guru PNS dari sekolah yang memiliki kelebihan tenaga pengajar ke sekolah yang
mengalami kekosongan. Skenario kedua adalah optimalisasi beban kerja, di mana
guru yang ada akan menambah jam mengajar hingga 26-30 jam per minggu.
Selain itu, Pemkot Magelang berencana mengusulkan sekitar
80 formasi CPNS guru pada tahun 2026. Upaya ini bertujuan memberikan kesempatan
bagi para honorer untuk meningkatkan status mereka. Sebagaimana dikutip dari
artikel asli, "Kontrak guru honorer di Magelang habis 2026, Pemkot siapkan
skenario atasi." Dilansir dari Kompas.com pada Jum'at (08/05/2026). Kebijakan ini merupakan sinkronisasi terhadap Surat
Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026 yang
menargetkan penataan 237.196 guru non-ASN di seluruh penjuru Indonesia.
Pemerintah setempat
berharap melalui kombinasi redistribusi internal dan pembukaan formasi CASN,
krisis kekurangan guru dapat terhindar. Para guru honorer pun didorong untuk
mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi seleksi mendatang demi meraih
kepastian karier dan kesejahteraan yang lebih baik di masa depan.

