NEW YORK / LONDON / NAIROBI / SEOUL / TEHERAN — 9 Maret 2026
Pekan kedua perang dimulai dengan krisis ekonomi global: harga minyak WTI tembus $115 per barel, Brent $110—tertinggi sejak 2008. Pasar saham dunia anjlok, memicu kekhawatiran resesi.
Dikutip dari AP / Britannica, 'Crude oil prices spike above $115 a barrel', 9 Maret 2026: "Perang Iran mengguncang pasar, dengan Selat Hormuz tertutup efektif; kenaikan mingguan terbesar sejak COVID-19." Maersk tangguhkan operasi Timur Tengah, sementara maskapai hadapi biaya naik 40%.
Dampak terasa di Afrika dan Asia. Dikutip dari AP, 'Iran war sends shockwaves through African fuel market', 9 Maret 2026: "Ekonomi Afrika rentan; impor bahan bakar naik, inflasi tekan konsumen. Kenya umumkan darurat pasokan." Di Nigeria, antrean SPBU panjang; harga BBM naik 60%.
Sementara, AS mulai latihan militer besar dengan Korea Selatan. Dikutip dari AP / Britannica, 'US begins large military drill with South Korea', 8 Maret 2026: "Ini sinyal AS bisa perang di dua theater; peringatan bagi China di Taiwan."
Arab Saudi peringatkan Iran pasca-serangan. Dikutip dari Al Jazeera, Day 9 War Update, 9 Maret 2026: "Drone Iran rusak pabrik desalinasi Bahrain, mirip serangan AS ke Qeshm."
Update perang: Iran serang Tel Aviv, Israel target listrik Isfahan. Dikutip dari OHCHR, 'Middle East crisis plays out worst fears', 8 Maret 2026: "Lebih 1.500 tewas di Iran; serukan pengekangan dan negosiasi."
Konflik ini jadi perang ekonomi, dirasakan nelayan Ghana hingga petani Bangladesh.

