SUARBERITA.COM - Parlemen Filipina resmi menyetujui pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte di tengah memanasnya rivalitas politik dengan Presiden Ferdinand Marcos Jr. Pemakzulan itu dipicu tuduhan korupsi, penyalahgunaan dana publik hingga kontroversi dugaan ancaman terhadap keselamatan Marcos Jr dan keluarganya.
Keputusan tersebut menjadi pukulan besar bagi dinasti politik Duterte sekaligus membuka babak baru pertarungan kekuasaan menjelang Pemilu Presiden Filipina 2028. Mayoritas anggota parlemen Filipina memberikan suara mendukung pemakzulan Sara Duterte dalam sidang yang digelar 11 Maret 2026 waktu setempat.
Sebanyak 255 anggota parlemen menyetujui langkah tersebut, sementara 26 menolak dan sembilan lainnya abstain. Putri mantan Presiden Rodrigo Duterte itu menghadapi sejumlah dakwaan serius, mulai dari gratifikasi, korupsi, penyuapan pejabat publik hingga dugaan penyalahgunaan dana negara.
Kontroversi bermula dari pernyataan Sara Duterte dalam konferensi pers yang menyebut dirinya telah meminta seorang pembunuh bayaran untuk menargetkan Marcos Jr jika dirinya dibunuh lebih dahulu. Pernyataan tersebut kemudian diklaim telah disalahartikan.
“Ini bukan lagi hanya tentang politik. Ini tentang hati nurani, kewajiban, dan masa depan bangsa kita,” ujar anggota parlemen Bienvenido Abante usai pemungutan suara dikutip dari detik.com, Selasa (12/5/2026.
Sementara itu, penasihat hukum Sara Duterte menyatakan pihaknya siap menghadapi proses persidangan di Senat Filipina. “Kami sepenuhnya siap membela Wakil Presiden di hadapan Pengadilan Pemakzulan,” katanya.
Kasus ini selanjutnya akan diproses di Senat Filipina. Jika dinyatakan bersalah, Sara Duterte selain dicopot dari jabatan wakil presiden sekaligus terancam kehilangan hak menduduki jabatan publik seumur hidup.

