SUARBERITA.COM – Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) kembali menggunakan instrumen produksi untuk menstabilkan pasar. Setelah rapat maraton selama dua hari, koalisi yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia mengumumkan pemangkasan produksi kolektif sebesar 1,2 juta barel per hari (bph), efektif mulai 1 Mei 2026. Langkah ini bertujuan untuk mengangkat harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh level terendah $78 per barel untuk Brent.
Dilansir dari Bloomberg, pemangkasan ini terdiri dari kontribusi sukarela dari delapan anggota, dengan Saudi Arabia memotong 500.000 bph, Rusia 300.000 bph, dan Irak, UEA, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, serta Oman ikut serta. "Kami melihat adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan yang tidak mencerminkan fundamental pasar. OPEC+ berkomitmen pada stabilitas," ujar Pangeran Abdulaziz bin Salman, Menteri Energi Saudi.
Reaksi pasar langsung terlihat. Harga minyak mentah Brent naik 4,2% dalam perdagangan elektronik setelah pengumuman, menyentuh level $87 per barel. Analis dari Goldman Sachs memperkirakan harga bisa menembus $95 dalam beberapa minggu jika pemangkasan diimplementasikan secara penuh. Namun, langkah ini menuai kritik dari negara-negara konsumen seperti AS dan Jepang yang khawatir akan mendorong inflasi. Sementara itu, produksi minyak AS yang kini mencapai rekor 13,5 juta bph diharapkan dapat mengimbangi sebagian pengurangan OPEC+.
