SUARBERITA.COM - Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai implementasi kesepakatan gencatan senjata sementara berlangsung di Bürgenstock, Swiss, pada 21 Juni 2026. Delegasi AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf bersama pejabat Kementerian Perminyakan dan Bank Sentral Iran.
Dikutip dari theguardian.com (21/6/2026), agenda awal berfokus pada pembukaan Selat Hormuz, pencabutan sanksi minyak, dan pencairan aset Iran di luar negeri. Namun, agenda meluas mencakup isu nuklir dan gencatan senjata di Lebanon setelah Iran memutuskan menutup kembali Selat Hormuz sebagai bentuk protes atas kegagalan AS mendesak Israel menghentikan pertempuran dengan Hizbullah.
Penutupan selat berdampak langsung pada lalu lintas pelayaran. Data Kpler menunjukkan hanya 25 kapal melintas pada Kamis, turun ke satu digit pada Jumat setelah pembatalan negosiasi awal. Angka tersebut jauh di bawah volume normal 100–120 tanker per hari sebelum konflik. Jakob Larsen dari BIMCO menegaskan bahwa meskipun perjanjian gencatan senjata telah ditandatangani, kondisi keamanan pelayaran tetap volatil. Bagian tengah selat dilaporkan dipenuhi ranjau laut, sehingga hanya jalur pesisir Oman dan Iran yang relatif aman, tetapi rawan kepadatan dan insiden navigasi.
Ketidakpastian juga diperparah oleh pencabutan cakupan asuransi risiko perang oleh Lloyd’s of London dan perusahaan maritim lainnya. Tanpa jaminan asuransi, pemilik kapal menunda keberangkatan meskipun sekitar 500 kapal, termasuk 220 tanker minyak, masih tertahan di Teluk Persia.
Vance menyatakan perundingan bertujuan mencapai kemajuan pada isu nuklir dan Lebanon, tetapi keberlanjutan kesepakatan masih diragukan di tengah tekanan domestik Iran dan kritik terhadap kebijakan Trump terkait Israel. Pemulihan penuh arus energi global diproyeksikan memerlukan waktu beberapa bulan hingga kepercayaan operator pelayaran terhadap stabilitas jangka panjang perjanjian pulih.

