Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Kuliner

Menolak Arus Perkembangan Zaman: Strategi Jadah Tempe Mbah Carik Merawat Cita Rasa Legendaris

Moh Wasil Haqqullah22 Mei 202614.00 WIB
Menolak Arus Perkembangan Zaman: Strategi Jadah Tempe Mbah Carik Merawat Cita Rasa Legendaris

SUARBERITA.COM - Di bawah sejuknya udara Kaliurang, sebuah harmoni rasa tradisional dari beras ketan, kelapa, dan legitnya tempe bacem terus bertahan menembus batas waktu. Jadah Tempe Mbah Carik, kuliner ikonik lereng Gunung Merapi, kini tengah menapaki babak baru. Di tengah gempuran kuliner modern serba instan, bisnis keluarga yang melegenda sejak era kolonial ini berjuang menjaga relevansinya tanpa harus mengorbankan warisan resep leluhur.

Estafet perjuangan kini berada di pundak Angga, generasi keempat yang mengelola usaha turun-temurun tersebut. Baginya, konsistensi rasa adalah harga mati yang tidak bisa ditawar, meski ekosistem pasar telah berubah drastis.

“Kalau rasa dan cara dasarnya tetap kami pertahankan. Itu yang diwariskan dari dulu,” jelas Angga, dikutip dari tribunnews.com. Kamis (21/05/2026).

Namun, Angga menyadari bahwa romantisme masa lalu tidak cukup untuk memenangkan pasar masa kini. Karakteristik konsumen modern menuntut kepraktisan dan adaptasi cepat. Untuk itu, inovasi menjadi keharusan. Jadah Tempe Mbah Carik kini mulai bertransformasi dengan menyasar pasar digital dan memperkuat daya saing produk. Jadah ditumbuk hingga kenyal berpadu tempe bacem kaya rempah khas Jawa, kini dikemas modern guna mengikuti perubahan perilaku pasar.

Langkah strategis ini membutuhkan sinergi yang luas. Pengamat ekonomi UMKM, Fais, menegaskan bahwa keberlanjutan bisnis lokal di era modernisasi sangat bergantung pada ekosistem pendukung.

“Membangun UMKM tidak bisa sendiri. Kolaborasi penting untuk membuka akses pembiayaan dan memperkuat daya saing,” papar Fais menambahkan. Menurutnya, keterlibatan aktif dari pemerintah, sektor perbankan, akademisi, hingga marketplace menjadi kunci utama.

Perjalanan Jadah Tempe Mbah Carik membuktikan bahwa modernisasi tidak selalu harus menyingkirkan tradisi. Melalui kombinasi keteguhan resep kuno dan keterbukaan terhadap kolaborasi modern, kuliner legendaris lereng Merapi ini tidak hanya berhasil merawat cita rasa warisan, tetapi juga mengukuhkan eksistensinya di tengah sengitnya persaingan zaman.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!