Jakarta - Berita perang antara Amerika dan Israel melawan Iran, sejak
Pebruari 2026 sampai Maret ini, telah mengabarkan adanya perebutan keunggulan
teknologi tempur masing masing, Mereka saling serang menggunakan kecanggihan
senjata teknologi dirgantara, yang berupa: Roket berhulu ledak, atau pun drone,
dan pesawat tempur.
Ternyata
perkembangan teknologi dirgantara telah mampu mengubah cara manusia, bukan
hanya dalam situasi damai, semisal untuk komunikasi, berinteraksi, dan bekerja
sehari hari, tetapi juga dalam kancah peperangan. Bahkan pemanfaatan teknologi
dirgantara, terkesan cenderung mendominasi di berbagai bidang kehidupan umat
manusia, termasuk bagi keperluaan militer penjaga pertahanan dan kedaulatan
Negara dari serbuan musuh.
Perang Masa kini: Darat, Laut, dan
Udara
Beberapa
dekade yang lalu, perang identik dengan pertempuran di medan perang, Tentara langsung
bertemu dengan tentara petempur. Saat ini pertempuran lebih banyak ditentukan
di udara bahkan di antariksa. Suatu negara bisa memantau wilayah musuh yang
berjarak ribuan kilometer melalui satelit pemantau. Satelit ini memindai pergerakan
pasukan, memprediksi strategi, bahkan menyerang dengan presisi tinggi.
Pesawat
tempur bergerak sangat cepat, didampingi drone terbang tanpa pilot, dan roket kendali
dan atau balistik berhulu ledak jarak dekat, bahkan lintas benua presisi tinggi.
Tidak hanya dari darat ke darat, tetapi juga bisa bergerak cepat dari darat ke
udara, dari udara ke udara, bahkan ke lautan yang jauh sekalipun. Faktor kecepatan
ini bisa dimanfaatkan untuk: menyerang, bertahan, maupun mengevakuasi pasukan. Mereka
juga bisa meminimalisir korban tentara.
Semua
ini merupakan keunggulan teknologi dirgantara di masa peperangan, baik di
darat, laut, maupun di udara. Satu diantara keunggulannya terletak pada
penyediaan informasi dan tindak lanjut yang: cepat, tepat, dan akurat.
Keunggulan inilah yang bisa menentukan: keluar sebagai pemenang perang.
Di
sisi lain, teknologi dirgantara juga memiliki efek pengertak musuh (deterrence).
Negara yang memiliki kekuatan pasukan bersenjata teknologi dirgantara, baik di udara
dan atau di antariksa yang kuat, cenderung lebih disegani oleh Negara lain,
sehingga dapat mencegah konflik sebelum terjadi, atau pun menggertak musuh
sebelum perang benar benar terjadi.
PERANG ASIMETRI SEBUAH STRATEGI PERLAWANAN
Tentu pertempuran antara Amerika dan Israel melawan Iran tersebut terkesan tidak seimbang jika dibandingkan dari sisi persenjataan yang berbasis teknologi dirgantara. Amerika memiliki fasilitas teknologinya jauh lebih lengkap dari pada Iran. Namun demikian, terasa Iran telah menyiapkan segalanya, bahwa suatu saat akan terjadi peperangan, dan mungkin akan berlangsung lebih lama dan melelahkan bagi yang sedang berperang.
Untuk itu peperangan asimetri, perang yang tidak sebanding akan dimanfaatkan oleh Iran. Hal ini terlihat dari senjata teknologi dirgantara Iran yang digunakan ketika perang. Senjata dirgantara ini masih relatif berharga murah, dan tidak terlalu canggih. Bisa dikatakan bahwa strategi ini memerlukan: cara cerdas, murah, dan tidak terduga; untuk tetap bisa memberi tekanan atau bahkan keluar sebagai pemenang.
Adapun senjata dirgantara Iran dalam peperangan kali ini, menggunakan kombinasi Roket Kendali (Rodal) berhulu ledak, dan Drone sebagai strategi utama.
Rodal Iran
Iran mempunyai banyak jenis rodal balistik
dan roket jarak pendek–menengah, antara lain:
> Rodal Sejjil
> Rodal Emad missile
> Rodal Khorramshahr
Daya hancur besar,
jarak jelajah hingga 2.000 km.
Sedangkan jenis Drone milik Iran, antara lain:
> Drone Bunuh diri Shahed-136.
Drone ini untuk sekali pakai, dengan
cara menabrak target untuk meledak bersama. Sulit dideteksi radar, biaya murah, dan
efektif dalam pertempuran.
> Drone Tempur Mohajer-6
Drone ini bisa membawa bom/rodal
kecil + pengintaian.
Teknologi
dirgantara biasanya mulai ramai terdengar dan dibicarakan ketika berita perang
bergejolak, tapi sebenarnya teknologi tersebut sudah sangat akrab
pemanfaatannya dalam kehidupan nyata sehari hari. Untuk mengenal teknologi
dirgantara tidak harus menunggu adanya pertempuran antar negara. Peran
teknologi dirgantara sangat besar, dan dapat ditemui di Aplikasi ponsel.
Selanjutnya akan terus berkembang, baik dalam keadaan perang maupun damai.
Penulis:
Atik Bintoro
Periset
di Pusat Riset Teknologi Penerbangan – BRIN – Bogor

