SUARBERITA.COM - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menepis anggapan bahwa biaya pendidikan di Singapura lebih murah dibandingkan Indonesia. Menurutnya, perbandingan tersebut tidak bisa dilakukan secara langsung karena kedua negara memiliki kondisi dan kompleksitas sistem pendidikan yang sangat berbeda.
Mu’ti menjelaskan, salah satu perbedaan mendasar terletak pada skala penyelenggaraan pendidikan. Indonesia memiliki sekitar 400 ribu sekolah dengan jumlah peserta didik mencapai sekitar 53 juta orang. Sementara itu, Singapura mengelola sistem pendidikan dengan jumlah sekolah dan siswa yang jauh lebih sedikit, sehingga beban pengelolaan maupun pembiayaan tidak dapat disamakan.
“Singapura itu kan sekolahnya cuma sedikit sekali. Kita sekolahnya 400 ribu sekolah di Indonesia. Itu hampir sama dengan penduduk Brunei Darussalam. Muridnya 53 juta. Jadi kompleksitas persoalannya memang sangat berbeda,” ujar Abdul Mu’ti, dikutip dari Kumparan, (4/8).
Menurut Mu’ti, perbedaan jumlah sekolah, peserta didik, hingga tantangan geografis membuat kebijakan pendidikan di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri. Karena itu, membandingkan biaya pendidikan kedua negara hanya berdasarkan besaran biaya yang dikeluarkan masyarakat dinilai tidak memberikan gambaran yang utuh.
Ia menegaskan bahwa penilaian terhadap sistem pendidikan seharusnya mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kapasitas negara, jumlah penerima layanan pendidikan, hingga tantangan dalam pemerataan akses pendidikan.
“Jadi kalau membandingkan Indonesia dengan Singapura ya, dengan segala hormat saya kira tidak apple to apple lah,” kata Mu’ti.
Pernyataan tersebut disampaikan Mu’ti saat menghadiri agenda Media Gathering: Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak di Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Selasa (4/8). Ia juga menegaskan pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan Indonesia yang berbeda dengan negara lain.

