Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Sosial

Memperingati Hari Pendidikan Nasional, Refleksi Penting dari Ki Hadjar Dewantara

Muhammad Nadhif Firdausi4 Mei 202613.00 WIB
Memperingati Hari Pendidikan Nasional, Refleksi Penting dari Ki Hadjar Dewantara

SUARBERITA.COM – Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei. Penetapan Hari Pendidikan Nasional diresmikan oleh Presiden Soekarno melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959 bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara sekaligus menetapkannya sebagai Bapak Pendidikan Nasional atas jasa-jasa dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Peringatan ini bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momen untuk merefleksikan pentingnya kemajuan pendidikan di Indonesia.

Dilansir dari laman resmi Perpustakaan Universitas Brawijaya, Ki Hadjar Dewantara lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta dengan nama R.M. Suwardi Suryadingrat. Ki Hadjar Dewantara dilahirkan dari keluarga ningrat. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, dia melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah dokter pada masa kolonial bernama STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Akibat sakit yang dideritanya, Ki Hadjar Dewantara harus berhenti dari sekolah dan menjadi seorang wartawan di beberapa media surat kabar seperti Utusan Hindia, Kaum Muda, dan De Express.

Pada masa Indonesia belum merdeka atau saat masih menjadi wilayah koloni Belanda dengan julukan Hindia Belanda, Ki Hadjar Dewantara dikenal berani menentang kebijakan pemerintah yang hanya membolehkan anak-anak keturunan Belanda dan kaum priyayi untuk mengenyam pendidikan. Kritik dan perlawanan Ki Hadjar Dewantara terhadap kebijakan ini membuat dirinya diasingkan ke Belanda bersama Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo yang dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Setelah kembali ke Indonesia, Ki Hadjar Dewantara mendirikan lembaga pendidikan bernama Tamansiswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa). Pascakemerdekaan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan. Karya-karyanya menjadi landasan pengembangan pendidikan di Indonesia. Salah satu semboyannya yang paling terkenal berbunyi, “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Artinya, “Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan.”

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!