Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Sosial

Memperingati Hari Kartini, Perjuangan tentang Kesetaraan Gender dan Emansipasi Perempuan Indonesia

Muhammad Nadhif Firdausi22 April 202608.19 WIB
Memperingati Hari Kartini, Perjuangan tentang Kesetaraan Gender dan Emansipasi Perempuan Indonesia

SUARBERITA.COM – Indonesia memperingati Hari Kartini setiap tanggal 21 April. Penetapan Hari Kartini disahkan secara resmi oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964. Peringatan ini bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momen untuk mengenang perjuangan tentang kesetaraan gender. Melalui pemikiran dan karyanya, Kartini menjadi simbol emansipasi perempuan Indonesia dan pelopor perubahan sosial yang masih relevan sampai sekarang.

Dilansir dari laman resmi Perpustakaan Universitas Brawijaya, Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Ia berasal dari kalangan bangsawan Jawa yang membuatnya memiliki akses terhadap pendidikan dasar di ELS (Europeesche Lagere School). Saat Kartini menginjak usia remaja, ia harus menjalani masa pingitan sesuai adat istiadat Jawa yang berlaku kala itu. Meski memiliki keterbatasan fisik, Kartini tidak membiarkan pikirannya terbelenggu. Ia tetap belajar secara otodidak dan menjalin korespondensi dengan teman-temannya di Belanda.

Korespondensi tersebut menjadi jalan bagi Kartini untuk menyuarakan pikirannya melalui surat-surat tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan, kesetaraan hak, dan kritik terhadap sistem kolonial yang menindas. Surat-surat Kartini kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang yang menjadi warisan intelektual untuk generasi penerus.

Kartini memahami bahwa pendidikan menjadi kunci utama untuk membebaskan perempuan dari ketertinggalan. Dalam surat-suratnya, ia mengungkapkan keprihatinan terhadap nasib perempuan pribumi yang tidak mendapatkan kesempatan belajar. Ia menolak anggapan bahwa perempuan hanya layak berada di ranah domestik dan tidak perlu berpendidikan tinggi. Baginya, perempuan yang cerdas akan melahirkan generasi yang lebih baik.

Pemikiran-pemikiran Kartini tergolong progresif dan berani pada zamannya. Ia tidak hanya menyoroti isu perempuan, melainkan persoalan ketidakadilan sosial yang lebih luas. Ia mendambakan masyarakat yang lebih adil, setara, dan manusiawi. Walaupun usianya terbilang cukup muda, Kartini wafat pada usia 25 tahun dengan warisan pemikirannya yang jauh melampaui batas waktu hidupnya.

Salah satu bentuk nyata perjuangan Kartini yaitu mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan di Jepara. Sekolah ini menjadi wadah bagi perempuan untuk memperoleh ilmu dan keterampilan yang membantu mereka untuk lebih mandiri. Upaya ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan perempuan di Indonesia. Itulah sekilas tentang perjuangan yang dilakukan oleh Raden Ajeng Kartini.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!