Suar Berita
News

Melawan Tawuran dengan Tinju, Seberapa Efektif Strategi Pramono?

M Rayhan Wildani K6 November 202611.12 WIB
Melawan Tawuran dengan Tinju, Seberapa Efektif Strategi Pramono?

SUARBERITA.COM - Peresmian Kampung Melayu Flyover Boxing Camp dan juga Posko Jaga oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Jumat (6/11/2026) bukan sekadar penambahan fasilitas olahraga. Di balik pembangunan arena tinju di kolong flyover, terdapat pendekatan berbeda yang sedang dicoba Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menghadapi persoalan tawuran remaja.

Kawasan yang selama ini menjadi ruang aktivitas masyarakat kini diarahkan menjadi tempat pembinaan anak muda. Bahkan, pemuda yang sebelumnya dikenal terlibat tawuran disebut ikut dilibatkan dalam pengelolaan fasilitas tersebut.

Langkah ini memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya ingin menjauhkan remaja dari jalanan, tetapi juga berupaya menyediakan ruang bagi mereka untuk menyalurkan energi dan membangun aktivitas yang lebih terarah.

Pendekatan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Pada Mei 2026, Pemprov DKI lebih dahulu meresmikan arena tinju dan skatepark di kolong Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur. Gagasan itu muncul setelah Wali Kota Jakarta Timur Munjirin berdialog dengan sejumlah kelompok pemuda yang kerap terlibat tawuran.

Mereka menyampaikan kebutuhan akan fasilitas olahraga yang mudah dijangkau. Pemerintah kemudian memfasilitasi permintaan tersebut melalui pembangunan sasana tinju.

Pilihan olahraga tinju juga menarik untuk dicermati. Olahraga ini memiliki unsur adu kekuatan dan kompetisi, tetapi berlangsung dalam aturan yang jelas. Dengan pendampingan pelatih, disiplin latihan, dan pengawasan, energi kompetitif anak muda diharapkan dapat diarahkan ke aktivitas yang lebih positif.

Pendekatan ini memiliki relevansi dengan persoalan tawuran yang tidak selalu bermula dari konflik besar. Polda Metro Jaya pernah mengungkap bahwa saling mengejek, perebutan wilayah nongkrong, hingga provokasi melalui media sosial dapat memicu bentrokan antarkelompok remaja.

Pemerintah Kota Jakarta Timur mencatat 132 kejadian tawuran sepanjang 2025. Sementara hingga Mei 2026, Wali Kota Jakarta Timur Munjirin menyebut jumlahnya tercatat 17 kejadian. Penurunan tersebut menjadi salah satu alasan Pemprov DKI mengembangkan fasilitas olahraga sebagai ruang pembinaan anak muda. Meski demikian, data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa keberadaan arena tinju menjadi satu-satunya faktor yang menekan tawuran.

Artinya, persoalan tawuran juga berkaitan dengan relasi sosial, identitas kelompok, dan kemampuan mengendalikan konflik. Karena itu, penindakan hukum tetap diperlukan, tetapi pembinaan dan keterlibatan lingkungan sosial juga menjadi bagian penting dari pencegahan.

Meski demikian, membangun ring tinju belum cukup untuk membuktikan bahwa persoalan tawuran dapat diselesaikan. Keberhasilannya tidak semestinya hanya diukur dari berdirinya fasilitas atau jumlah pengunjung yang datang berlatih.

Pemerintah perlu memastikan adanya pelatih, jadwal latihan rutin, pendampingan, serta keterlibatan keluarga dan komunitas. Perubahan perilaku peserta dan perkembangan angka tawuran di lingkungan sekitar juga perlu dievaluasi secara berkala.

Pada akhirnya, tantangan terbesar strategi ini bukan membangun lebih banyak ring tinju, melainkan memastikan ruang tersebut benar-benar menjadi tempat pembinaan yang berkelanjutan. Sebab, tawuran bukan hanya persoalan tidak tersedianya tempat olahraga, tetapi juga persoalan sosial yang membutuhkan penanganan lebih luas.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!