Suar Berita
News

Lab Narkoba Internasional Terungkap di Aceh, 1,2 Ton Sabu Disita dan 11 Orang Ditangkap

M Rayhan Wildani K24 Oktober 202614.00 WIB
Lab Narkoba Internasional Terungkap di Aceh, 1,2 Ton Sabu Disita dan 11 Orang Ditangkap
BNN

SUARBERITA.COM - Laboratorium rahasia produksi narkotika jaringan internasional terungkap di Kabupaten Pidie, Aceh. Aparat gabungan menyita narkotika dengan berat bruto sekitar 1,2 ton dan menangkap 11 orang yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut.

Pengungkapan dilakukan oleh tim gabungan Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Operasi itu juga melibatkan National Narcotics Control Commission (NNCC) China melalui pertukaran informasi intelijen.

Dalam keterangan resmi pada Jumat (23/10/2026), BNN menyebut kasus ini bermula dari informasi mengenai jaringan narkotika yang diduga mengirimkan metamfetamin cair ke Indonesia untuk diolah menjadi sabu kristal.

Penyelidikan kemudian dikembangkan untuk melacak pergerakan orang-orang yang diduga terlibat hingga menemukan lokasi yang digunakan sebagai laboratorium rahasia di Aceh.

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengatakan laboratorium tersebut dikendalikan jaringan yang melibatkan ahli kimia berpengalaman. Dua warga negara China berinisial LJ dan XM diduga berperan sebagai peracik metamfetamin cair menjadi sabu kristal.

Menurut keterangan Kapolri yang diberitakan Tribatanwes Polda Aceh, pengiriman bahan narkotika telah terdeteksi sejak Februari 2026. Barang tersebut diduga masuk ke Indonesia melalui jalur lintas negara sebelum akhirnya diproses di Aceh.

Petugas mengamankan 11 tersangka dalam rangkaian operasi yang menyasar lima lokasi. Mereka terdiri atas sembilan warga negara Indonesia dan dua warga negara China. Penyidik juga masih menelusuri pihak lain yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut.

Jaringan Lintas Negara Jadi Fokus Penyelidikan

Pengungkapan laboratorium ini memperlihatkan bahwa peredaran narkotika tidak hanya berlangsung melalui penyelundupan barang jadi. Bahan narkotika juga diduga dikirim dalam bentuk cair untuk diproses menjadi produk siap edar di dalam negeri.

Pola tersebut membuat penelusuran jaringan membutuhkan koordinasi antarlembaga, mulai dari pengawasan jalur masuk, identifikasi lokasi produksi, hingga pengungkapan pihak yang diduga mengendalikan operasi.

BNN menyatakan pengungkapan tersebut merupakan hasil sinergi aparat Indonesia dengan mitra dari China. Namun, penyidik masih perlu mengungkap secara menyeluruh alur distribusi, peran setiap tersangka, serta pihak yang diduga menjadi pengendali utama.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pemberantasan narkotika tidak cukup berhenti pada penyitaan barang bukti dan penangkapan pelaku di lokasi. Penelusuran jaringan, termasuk pemasok bahan baku dan pengendali lintas negara, menjadi bagian penting untuk memutus rantai peredaran narkotika.

Sumber: BNN, Polri, dan ANTARA.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!