SUARBERITA.COM - Pertemuan pemimpin G7 berlangsung lebih cair setelah pengumuman memorandum pemahaman AS-Iran yang mulai berlaku seketika. Dokumen tersebut mewajibkan Iran melakukan downblending uranium di bawah pengawasan IAEA sebagai imbalan atas keringanan sanksi sehingga ekspor minyak berjalan bebas.
Bagi Eropa, pembukaan Selat Hormuz selama dua bulan tanpa pungutan diharapkan meredakan tekanan energi dan inflasi. Prancis dan Inggris menyatakan kesiapan mengerahkan kapal untuk operasi demiliterisasi setelah gencatan senjata terbukti bertahan. Namun pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran yang menolak “tol permanen” menimbulkan keraguan terhadap klaim Trump.
Dikutip dari nytimes.com (17/6/2026), isu Ukraina menjadi titik perpecahan. Dalam sesi tertutup, Trump menyatakan konflik itu “ribuan mil jauhnya” dan tidak memengaruhi kepentingan AS secara langsung, dengan keterlibatan terbatas pada penjualan senjata. Pernyataan tersebut memperkuat persepsi bahwa Eropa harus menopang Ukraina secara mandiri lebih dari empat tahun setelah invasi Rusia. Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron tetap menampilkan diplomasi akomodatif, termasuk pemberian jersey bernomor 47 kepada Trump. Namun absennya pertemuan bilateral Trump-Starmer mengindikasikan retakan hubungan personal.
Trump juga menegaskan kesepakatan Iran “adil” dan menolak laporan investasi $300 miliar, sembari memperingatkan “konsekuensi luar biasa” bila Iran mengembangkan senjata nuklir. Dinamika KTT ini menunjukkan bahwa isu energi, keamanan maritim, dan kohesi aliansi Barat menjadi agenda utama, terpisah dari narasi olahraga.

