SUARBERITA.COM - Hutan Sumatra mungkin masih terlihat hijau dari kejauhan. Namun bagi satwa liar, bentang alam itu tidak lagi selalu utuh. Jalan, perkebunan, permukiman, hingga berbagai proyek pembangunan perlahan memecah kawasan hutan menjadi bagian-bagian yang terpisah.
Fragmentasi habitat tersebut membuat jalur jelajah satwa semakin menyempit. Bagi gajah, harimau, orangutan, dan satwa lainnya, keterhubungan hutan penting untuk mencari makan, berpindah wilayah, hingga mempertahankan keberlangsungan populasinya.
Persoalan ini kembali mendapat perhatian pada Oktober 2026. WWF-Indonesia pada 22 Oktober menyoroti pentingnya perlindungan habitat dan koridor Gajah Sumatra di Lanskap Bukit Tigapuluh, Jambi dan Riau. Wilayah jelajah gajah di kawasan tersebut melintasi area dengan fungsi dan pengelolaan yang berbeda, sehingga keberadaan koridor dinilai penting untuk menjaga ruang gerak satwa sekaligus mengurangi potensi konflik dengan manusia.
Ancaman fragmentasi tidak terjadi begitu saja. Penelitian BRIN menunjukkan bahwa konversi hutan menjadi kebun dan permukiman, ekspansi perkebunan skala besar, serta pembangunan yang tidak mempertimbangkan ekologi lanskap dapat memutus jalur jelajah gajah. Ketika jalur tersebut hilang, satwa dapat terdorong memasuki wilayah yang telah dihuni manusia.
Upaya menghubungkan kembali habitat mulai dilakukan melalui koridor biodiversitas. Pada Oktober 2026, pembahasan mengenai fragmentasi hutan Sumatra juga mendorong pemanfaatan kebun raya dan kawasan preservasi sebagai “jembatan ekologis” antarkawasan hutan.
Ancaman bagi satwa ternyata tidak selalu dimulai ketika hutan benar-benar hilang. Terkadang hutannya masih berdiri, tetapi jalur yang selama ini menjadi “jalan pulang” bagi satwa perlahan terputus.

