Ketegangan geopolitik di Timur
Tengah kini mulai berdampak pada jalur distribusi energi global. Dilansir dari
Kompas.com, Rabu, 4 Maret 2026, dua kapal tanker milik Pertamina dilaporkan
tertahan di kawasan Selat Hormuz setelah wilayah tersebut mengalami penutupan
sementara akibat meningkatnya konflik regional. Bahlil Lahadalia Menteri energi
dan Sumber Daya (ESDM) mengatakan, dua kapal milik PT Pertamina International
Shipping (PIS) yang terjebak di Sekat Hormuz terus diupayakan untuk bisa keluar
dari wilayah konflik tersebut.
Penutupan jalur pelayaran Selat
Hormuz terjadi setelah eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan
Israel di kawasan Teluk. Sedangkan Selat Hormuz ini adalah salah satu jalur
energi paling penting di dunia karena menjadi pintu keluar utama ekspor minyak
dari negara-negara Timur Tengah. Dimana akibat dari situasi keamanan yang
memburuk sejumlah kapal tanker international termasuk milik Indonesia terpaksa
tertahan di perjalanan.
Sebagaimana kutipan dari
Kompas.com , Minggu, 1 Maret 2026, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meminta
China membujuk Iran agar tidak menutup Selat Hormuz, disusul dengan serangan
Washington terhadap fasilitas nuklir Teheran. Penutupan Selat Hormuz memiliki
potensi menyeret negara-negara Arab Teluk yang sebelumnya sempat kritis
terhadap serangan Israel ke dalam konflik demi melindungi kepentingan dagang
mereka.
PT Pertamina International
Shipping (PIS) sudah memastikan dan terus memantau secara intensif ke seluruh
armada dan keselamatan pekerjanya yang berada di Timur Tengah. Saat ini kapal
Pertamina Pride telah selesai melakukan proses loading dan sedang berlabuh di
Ras Tanura-Arab Saudi.
Dengan adanya peristiwa ini
menunjukkan betapa rentannya sistem distribusi energi global terhadap konflik
geopolitik. Bagi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor minyak,
stabilitas jalur perdagangan internasional menjadi faktor penting dalam menjaga
keamanan energi nasional. Pemerintah kini terus memantau perkembangan situasi
sembari memastikan distribusi BBM dalam negeri tetap berjalan normal.

