Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Kebijakan Ekonomi Prabowo Picu Tiga Bank Asing Repatriasi Laba US$640 Juta dari Indonesia

Dwipa S1 Juli 202616.10 WIB
Kebijakan Ekonomi Prabowo Picu Tiga Bank Asing Repatriasi Laba US$640 Juta dari Indonesia - Foto 1
1/2

SUARBERITA.COM - Tiga bank asing terbesar di Indonesia, Citigroup, Standard Chartered, dan HSBC, telah meremitansi total 11,5 triliun rupiah atau sekitar US$640 juta dari laba mereka ke kantor pusat sejak 2024. Angka tersebut melampaui rata-rata repatriasi laba sebelum Presiden Prabowo Subianto menjabat pada Oktober 2024.

Dikutip dari bloomberg.com (29/6/2026), laporan keuangan menunjukkan porsi laba yang dikirim keluar meningkat signifikan. Citigroup mengalihkan hampir seluruh pendapatannya pada 2024-2025, melampaui rata-rata 84% dekade sebelumnya. Standard Chartered mengirim lebih dari 1,1 triliun rupiah pada 2024, atau hampir empat kali lipat laba tahunannya di Indonesia. HSBC pun meremitansi hampir 3 triliun rupiah pada tahun lalu, padahal laba bersihnya di bawah 2,2 triliun rupiah.

Para bankir menyebut keputusan tersebut dipengaruhi kekhawatiran atas arah kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai semakin berorientasi negara. Perluasan peran Dana Kekayaan Negara Danantara, yang kini mengelola aset senilai sekitar US$900 miliar, menjadi salah satu pemicu utama. Permintaan Danantara kepada 10 bank untuk berkomitmen pada fasilitas pinjaman US$10 miliar pada awal 2025 dinilai sebagian eksekutif sebagai indikasi tekanan untuk mendukung prioritas pemerintah.

Kondisi tersebut diperparah oleh gejolak pasar yang mengguncang saham dan rupiah pada awal pemerintahan Prabowo, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang mengurangi daya tarik menahan laba di dalam negeri. Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyatakan sentimen investor yang masih berhati-hati membuat tren ini kecil kemungkinan berbalik dalam waktu dekat.

Selain itu, wacana Otoritas Jasa Keuangan untuk memasukkan dukungan terhadap program pemerintah dalam rencana bisnis bank, termasuk pembiayaan program makan bergizi dan koperasi desa, turut meningkatkan kekhawatiran perbankan terkait alokasi modal dan manajemen risiko. OJK menegaskan keputusan kredit tetap berbasis penilaian bisnis bank.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!