SUARBERITA.COM - Upaya penyelamatan terhadap lima Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditangkap oleh militer Israel di perairan internasional menemui tembok tebal. Pemerintah Indonesia secara terbuka mengakui adanya hambatan besar dalam membuka jalur komunikasi, khususnya untuk memastikan kondisi tiga jurnalis nasional yang ikut ditawan dalam misi kemanusiaan tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden yang menimpa para awak media asal Republika dan Tempo tersebut. Menurutnya, absennya hubungan bilateral resmi menjadi pemicu utama alotnya proses evakuasi.
“Pemerintah sangat prihatin dan menyesalkan apa yang dilakukan tentara Israel terhadap warga negara Indonesia, khususnya para wartawan yang melintasi perairan internasional untuk melakukan kegiatan kemanusiaan membantu para korban konflik di Gaza,” ujar Yusril saat memberikan keterangan di Surabaya, Selasa (19/5). Dikutip melalui kumparan.com Rabu, (20/05/2026)
Kelima WNI yang ditahan merupakan bagian dari sembilan delegasi kapal kemanusiaan International Global Sumud Flotilla (GSF 2.0). Kendati Kementerian Luar Negeri telah bergerak proaktif, nihilnya akses komunikasi langsung membuat nasib para korban masih abu-abu.
“Sampai hari ini kami ketahui masih sulit untuk menghubungi kedua (tiga) orang tersebut,” lanjut Yusril. Beliau menambahkan bahwa Jakarta tidak bisa bernegosiasi secara langsung akibat kendala geopolitik. “Namun, karena kita tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, kita tidak dapat melakukan perundingan langsung dengan pihak Israel.”
Sebagai langkah strategis, Indonesia kini mengalihkan fokus dengan memanfaatkan jaringan internasional guna menekan Tel Aviv. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk tidak angkat tangan dalam melindungi warganya di zona konflik. “Kita tentu akan mengambil upaya-upaya diplomatik dan langkah hukum melalui perantaraan negara ketiga serta badan internasional untuk melindungi warga negara kita yang ditangkap tentara Israel itu,” pungkas Yusril.

