SUARBERIRA.COM – Perundingan gencatan senjata
AS-Iran akan dimulai di Islamabad, Pakistan Jumat (11/04) waktu setempat. Delegasi
Iran yang diwakili oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf telah tiba
di Islamabad. Sedangkan dari pihak AS di wakili Oleh JD Vance selaku Wakil
Presiden Amerika Serikat.
Seperti laporan dari televisi Iran, delegasi Iran
membawa mandat bahwa negosiasi bergantung pada sikap AS terhadap prasyarat yang
diajukan Iran. Sedangkan pihak AS sendiri melalui Wakil Presiden JD Vance
memberikan peringatan terhadap Teheran untuk tidak mempermainkan AS dalam
proses diplomasi ini.
“Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan niat baik,
kami tentu bersedia mengulurkan tangan terbuka,” ujar Vance dalam laporan
wawancara dengan wartawan.
Lanjutnya, “Jika mencoba mempermainkan kami, maka
mereka akan mendapati bahwa tim perunding kami tidak akan menerima hal itu”.
Selain itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald
Trump dalam tulisannya di media sosial Truth Social mengatakan bahwa Iran tidak
memiliki posisi tawar yang kuat dalam perundingan ini.
“Iran tidak memiliki kartu dalam pembicaraan ini
selain pemerasan jangka pendek terhadap dunia dengan menggunakan jalur perairan
internasional,” tulis Trump.
Negosiasi AS-Iran kali ini cukup sulit mengingat
situasi di Lebanon masih memanas. Israel masih melancarkan serangan udara di
Lebanon. Selain itu, negosiasi AS-Iran juga terbentur dengan adanya poin-poin
sensitif seperti pengayaan nuklir Iran, penghentian serangan Lebanon, serta
kelancaran arus perdagangan di Selat Hormuz. Keduanya memiliki poin-poin
sensitif untuk dibawa dalam negosiasi kali ini
