SUARBERITA.COM - Jembatan Suramadu dibangun untuk memperlancar konektivitas sekaligus menciptakan lalu lintas yang lebih tertib dan aman. Salah satu pengaturannya adalah pemisahan lajur kendaraan, termasuk jalur khusus bagi sepeda motor. Namun hingga kini, masih ditemukan pengendara motor yang memilih menggunakan lajur mobil.
Masalah ini tidak hanya bisa dilihat dari sisi pengawasan petugas. Ada persoalan lain yang sering luput dibahas, yakni etika dan budaya tertib lalu lintas. Aturan di jalan pada akhirnya tidak hanya bergantung pada ada atau tidaknya aparat, tetapi juga pada kebiasaan pengguna jalan itu sendiri.
Di sejumlah daerah, termasuk yang kerap menjadi sorotan di Madura, masih ditemukan kebiasaan berkendara yang mengabaikan perlengkapan keselamatan. Misalnya penggunaan penutup kepala seperti peci saat mengendarai motor tanpa mengenakan helm. Tentu tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh masyarakat, tetapi praktik seperti ini menujukkan bahwa perlengkapan keselamatan kadang masih dipandang sebagai formalitas, bukan kebutuhan.
Pola pikir serupa bisa terlihat pada pengguanaan lajur di Suramadu. Ketika jalur motor dianggap lebih lambat atau kurang nyaman, sebagian pengendara memilih mengambil jalur mobil meski risikonya lebih besar. Akibatnya, aturan yang dibuat untuk menjaga keselamatan justru diabaikan.
Di sisi lain, petugas memiliki keterbatasan dalam melakukan pengawasan. Penindakan penting, tetapi tidak mungkin menjangkau seluruh pelanggaran setiap saat. Karena itu, membangun budaya tertib menjadi tantangan yang sama pentingnya dengan penegakan aturan.
Pada akhirnya, keselamatan di Suramadu tidak hanya ditentukan oleh keberadaan petugas atau infrastruktur, tetapi juga oleh kesadaran bahwa tertib berlalu lintas adalah bentuk menjaga diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.

