SUARBERITA.COM - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa memorandum kesepahaman yang tengah dinegosiasikan dengan Amerika Serikat (AS) berpotensi mengakhiri konflik dan ketegangan yang telah berlangsung selama puluhan tahun antara kedua negara.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, IRIB, Araghchi mengatakan kesepakatan tersebut juga akan mengakhiri konflik di sejumlah wilayah, termasuk Lebanon.
"Berakhirnya perang akan diumumkan di semua front, termasuk Lebanon," kata Araghchi, Sabtu (13/6/2026).
Menurutnya, memorandum itu memuat komitmen kedua negara untuk tidak memulai perang, tidak mengancam penggunaan kekuatan, serta saling menghormati kedaulatan masing-masing.
"Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun, Amerika Serikat secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menghormati kedaulatan Republik Islam Iran," kata Araghchi.
Araghchi menyebut negosiasi akan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama berupa penandatanganan memorandum kesepahaman, sementara tahap kedua membahas isu yang lebih rinci seperti pencabutan sanksi terhadap Iran, program nuklir, pengayaan uranium, serta pelepasan aset Iran yang selama ini dibekukan.
Selain itu, Iran juga menginginkan perubahan pengelolaan Selat Hormuz bersama Oman serta pencabutan blokade maritim yang selama ini membatasi aktivitas negara tersebut.
Meski optimistis, Araghchi menegaskan seluruh isi memorandum masih ditinjau oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Jika seluruh proses berjalan lancar, penandatanganan dokumen tersebut disebut dapat dilakukan dalam beberapa hari ke depan secara digital.
"Penandatanganan akan dilakukan secara digital dan jarak jauh," katanya.
Kesepakatan ini dinilai berpotensi menjadi salah satu terobosan diplomatik terbesar dalam hubungan Iran dan Amerika Serikat setelah puluhan tahun diwarnai ketegangan politik, ekonomi, dan militer.

