SUARBERITA.COM - Perang yang sempat memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya memasuki babak baru setelah kedua negara sepakat mengakhiri konflik melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU). Namun, di balik tercapainya kesepakatan tersebut, tensi antara kedua pihak rupanya belum benar-benar mereda.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam apabila Amerika Serikat melanggar isi kesepakatan yang telah disetujui. Menurutnya, Iran siap memberikan balasan yang jauh lebih keras jika Washington menunjukkan itikad buruk dalam menjalankan perjanjian tersebut.
"Jika terjadi itikad buruk, pelanggaran kontrak, dan tuntutan berlebihan dari pihak lawan, kami tidak akan ragu untuk memberikan respons yang menghancurkan kepada musuh," tulis Ghalibaf melalui akun X miliknya, Jumat (19/6).
Ia bahkan menyebut Amerika Serikat telah merasakan tekanan dari Iran selama perang berlangsung. Karena itu, apabila Washington kembali mengambil langkah yang dianggap melanggar kesepakatan, Iran mengklaim siap memberikan respons yang lebih besar.
"Mereka pernah ditampar selama perang. Jika mereka ingin menempuh jalan itu lagi, mereka akan menerima tamparan yang lebih keras lagi," ujarnya.
Kesepakatan damai tersebut ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles, usai pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 pada Rabu (17/6) malam waktu setempat.
"Baru saja menandatanganinya," kata Trump singkat kepada awak media setelah keluar dari lokasi acara.
Di sisi lain, pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa dokumen perdamaian telah ditandatangani oleh kedua kepala negara. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan proses penandatanganan dilakukan secara elektronik tanpa seremoni resmi.
Menurut Baqaei, kini fokus utama kedua negara adalah memastikan seluruh poin dalam memorandum tersebut benar-benar dijalankan.
"Teks Memorandum of Understanding Islamabad telah diselesaikan dengan tanda tangan para presiden. Sekarang saatnya menguji implementasi perjanjian tersebut," ujarnya sebagaimana dikutip kantor berita IRNA.
Kesepakatan damai ini disebut tidak lepas dari kekhawatiran terhadap kondisi pasokan energi global. Presiden Trump sebelumnya mengakui bahwa cadangan minyak dunia berada dalam kondisi kritis. Ia menilai tanpa adanya penyelesaian konflik dengan Iran, dunia berpotensi menghadapi krisis energi yang lebih besar, termasuk terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia.
Meski dokumen perdamaian telah ditandatangani, pernyataan keras dari pejabat tinggi Iran menunjukkan bahwa hubungan kedua negara masih dipenuhi rasa saling curiga. Implementasi isi kesepakatan kini menjadi ujian utama yang akan menentukan apakah perdamaian benar-benar dapat bertahan atau justru kembali memicu ketegangan baru.

