SUARBERITA.COM - Ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Teluk Oman kembali mencapai titik didih. Pemerintah Iran melalui Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan tidak akan lagi menahan diri setelah militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan menembaki kapal tanker milik Teheran. Insiden ini mengancam stabilitas keamanan energi global dan merusak upaya gencatan senjata yang sebelumnya sempat diupayakan kedua belah pihak.
Pernyataan keras Teheran muncul sebagai respons atas tindakan jet tempur F/A-18 Super Hornet milik AS yang menembakkan peluru ke arah sistem kemudi dua kapal tanker Iran pada Jumat (8/5/2026). AS berdalih tindakan tersebut dilakukan karena kapal-kapal tersebut mencoba menerobos blokade pelabuhan. Namun, bagi Iran, langkah ini adalah agresi yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Komando Angkatan Laut IRGC memberikan peringatan bahwa seluruh aset militer AS di kawasan Timur Tengah kini masuk dalam daftar target. Jenderal Sardar Mousavi dari Angkatan Udara IRGC menegaskan kesiapan tempur pasukannya. “Rudal dan pesawat nirawak IRGC telah mengunci target Amerika di wilayah tersebut dan kapal-kapal musuh yang agresif,” tegas Mousavi. Beliau menambahkan dengan lugas, “Kami menunggu perintah untuk menembak.” Dilansir dari Kompas.com, Senin (11/05/2026).
Selain itu, pihak IRGC mengeluarkan ancaman balasan yang lebih luas terhadap aktivitas komersial Amerika. “Setiap serangan terhadap tanker Iran dan kapal komersial akan menghasilkan serangan besar terhadap salah satu pusat Amerika di kawasan dan kapal-kapal musuh,” demikian pernyataan resmi IRGC.
Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan bahwa gencatan senjata masih berlaku dan menyebut baku tembak tersebut hanya sebagai "sentuhan kasih sayang," pihak Iran tampaknya memiliki pandangan berbeda. Ancaman serangan balik yang masif kini membayangi kawasan Teluk. Situasi ini menempatkan proses negosiasi damai yang sedang diinisiasi kedua negara berada di ujung tanduk, sementara mata dunia tertuju pada potensi eskalasi militer yang lebih besar.

