SUARBERITA.COM - Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan terbarunya menegaskan bahwa eskalasi konflik geopolitik global menjadi faktor utama yang menghambat penurunan harga minyak mentah ke level sebelum perang terjadi.
Laporan IMF menyoroti bahwa disrupsi rantai pasok energi akibat konflik bersenjata di berbagai kawasan strategis telah mengubah peta distribusi minyak secara fundamental. Kondisi ini menyebabkan premi risiko geopolitik tetap melekat pada harga komoditas energi, sehingga stabilitas harga ke tingkat rendah seperti periode pra-konflik sulit tercapai dalam jangka pendek. IMF mencatat bahwa meskipun terjadi penyesuaian produksi oleh beberapa negara eksportir, ketidakpastian keamanan jalur distribusi minyak tetap menjadi hambatan utama dalam normalisasi pasar energi global.
Dalam laporan tersebut, rata-rata harga minyak dunia diperkirakan melonjak hampir sepertiga pada 2026 menjadi 89,27 dollar AS per barel, sebelum turun menjadi sekitar 78,7 dollar AS per barel pada 2027.
"Kami tidak berasumsi bahwa situasi (harga minyak) akan bisa langsung kembali seperti kondisi normal sebelum perang," kata Kozack saat menyampaikan penilaian IMF mengenai pasar minyak global. Dikutip dari kompas, Jum’at (10/7/2026).
Selain itu, IMF menekankan bahwa ketergantungan pasar pada mekanisme harga yang fluktuatif diperparah dengan tingginya biaya logistik maritim akibat ancaman keamanan di titik-titik krusial pelayaran dunia. Negara-negara importir minyak kini menghadapi tantangan ekonomi ganda, yakni tekanan inflasi domestik yang dipicu oleh tingginya biaya energi serta kebutuhan untuk melakukan diversifikasi sumber energi guna mengurangi ketergantungan pada wilayah yang terdampak konflik. IMF menyarankan agar setiap negara memperkuat kebijakan fiskal dan ketahanan energi guna memitigasi dampak jangka panjang dari tingginya harga komoditas ini, sembari tetap memantau dinamika geopolitik yang terus berkembang.
Prediksi IMF ini memberikan sinyal bagi pasar global untuk terus beradaptasi dengan era harga energi yang relatif tinggi. Ketidakstabilan geopolitik yang berkepanjangan menjadi faktor penentu utama yang menjaga harga minyak tetap berada di level atas, sehingga pemulihan harga ke titik normal diprediksi membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

