Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) meningkatkan pengawasan terhadap fasilitas nuklir Iran di tengah eskalasi konflik yang semakin mengkhawatirkan. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi berulang kali menyerukan "pengendalian militer maksimum, terutama di sekitar fasilitas nuklir," menyusul serangan udara AS-Israel yang menargetkan situs-situs nuklir Iran, termasuk fasilitas Natanz dan pembangkit listrik Bushehr .
Dikutip dari The New York Times, Kekhawatiran internasional meningkat setelah Rusia mengumumkan rencana evakuasi personel dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr pada 25 Maret 2026. Alexei Likhachev, kepala Rosatom, mengatakan akan dilakukan "beberapa putaran evakuasi personel" dari fasilitas tersebut setelah sebuah proyektil menghantam area fasilitas pada Selasa, dan insiden serupa terjadi pekan sebelumnya .
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow terus berkomunikasi dengan IAEA mengenai situasi tersebut. "Kami terus berkomunikasi dengan IAEA tentang situasi ini," kata Peskov.
Sebelumnya, IAEA mengonfirmasi bahwa Iran telah memberi tahu badan tersebut tentang serangan di fasilitas Natanz pada 21 Maret dan melaporkan tidak ada peningkatan tingkat radiasi di luar lokasi. Namun, serangan yang terus berlanjut di dekat fasilitas nuklir di Iran dan Israel meningkatkan risiko kecelakaan nuklir yang dapat berdampak katastrofik bagi kawasan.
