SUARBERITA.COM - Fenomena hujan es terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi di Lampung Barat, Lampung, dan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Selain mengagetkan warga, fenomena ini juga disertai angin kencang hingga menyebabkan kerusakan rumah.
Di Lampung Barat, hujan es dilaporkan terjadi di Kecamatan Balik Bukit pada Minggu (1/11/2026). Butiran es yang disebut berukuran sebesar kelereng turun bersama hujan deras, petir, dan angin kencang. Peristiwa tersebut berlangsung sekitar 10 hingga 15 menit dan menyebabkan sejumlah rumah mengalami kerusakan.
Sementara itu, fenomena serupa terjadi di Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, pada Senin (2/11/2026). Hujan es yang disertai angin kencang menyebabkan pohon tumbang dan puluhan rumah warga mengalami kerusakan.
Kemunculan fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan, bagaimana hujan yang biasanya turun dalam bentuk air justru bisa berubah menjadi butiran es di negara beriklim tropis seperti Indonesia?
Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan es atau hail merupakan fenomena cuaca yang berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB).
Awan tersebut memiliki karakteristik menjulang tinggi dan dapat berkembang hingga mencapai lapisan atmosfer yang memiliki suhu di bawah titik beku.
Dalam prosesnya, udara hangat dan lembap bergerak naik ke atmosfer melalui arus udara yang disebut updraft. Ketika mencapai lapisan yang lebih dingin, tetesan air mengalami pembekuan dan membentuk butiran es.
Butiran tersebut kemudian dapat membesar karena mengalami proses pembekuan berulang di dalam awan. Ketika ukurannya semakin besar dan tidak lagi mampu ditahan oleh arus udara ke atas, butiran es akhirnya jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan es.
Mengapa Bisa Terjadi di Indonesia?
Hujan es tidak berarti suhu udara di permukaan bumi harus berada di bawah nol derajat Celsius. Proses pembentukan es berlangsung di bagian atas awan yang memiliki suhu jauh lebih rendah dibandingkan permukaan bumi.
Indonesia sebagai negara tropis tetap memiliki kondisi atmosfer yang memungkinkan terbentuknya awan Cumulonimbus, terutama ketika udara panas dan lembap serta kondisi atmosfer tidak stabil memicu pertumbuhan awan secara intensif.
Karena itu, hujan es dapat terjadi meskipun wilayah yang mengalaminya memiliki suhu udara relatif hangat.
BMKG juga mengingatkan bahwa pertumbuhan awan Cumulonimbus dapat memicu cuaca ekstrem lainnya, seperti hujan lebat, petir, dan angin kencang.
Dampak yang ditimbulkan tidak hanya berasal dari butiran es. Angin kencang yang menyertai pertumbuhan awan badai juga berpotensi merusak atap rumah, menumbangkan pohon, hingga membahayakan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat diimbau untuk segera berlindung di dalam bangunan yang kokoh ketika hujan es dan angin kencang terjadi. Hindari berteduh di bawah pohon, menjauhi benda-benda yang berpotensi roboh, serta mengikuti informasi dan peringatan cuaca dari BMKG.
Fenomena hujan es di Lampung Barat dan Kuningan menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem dapat terjadi secara lokal dan dalam waktu relatif singkat, termasuk di wilayah tropis seperti Indonesia.

