SUARBERITA.COM - Hari Bhayangkara ke-80 diperingati pada Rabu, 01/07 2026, dengan upacara yang digelar di Cikeas, Jawa Barat. Momentum ini bukan hanya menjadi perayaan bertambahnya usia Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), tetapi juga menjadi saat yang tepat untuk kembali mengenang sosok-sosok teladan yang telah mewarnai perjalanan institusi tersebut. Dari sekian banyak nama, Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso masih dikenang sebagai simbol kejujuran, integritas, dan keberanian dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Sosoknya dikenang bukan semata karena pernah memimpin Kepolisian Republik Indonesia, melainkan karena nilai yang ia wariskan: kejujuran, keberanian, dan kesederhanaan.
Tak sedikit masyarakat yang menyebut Hoegeng sebagai simbol integritas Polri. Bahkan, muncul ungkapan populer yang sering dikaitkan dengan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, bahwa "di Indonesia hanya ada tiga polisi yang jujur, yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng." Meski Gus Dur sendiri pernah menjelaskan bahwa kalimat tersebut lebih merupakan bentuk kritik sosial terhadap kondisi penegakan hukum saat itu, nama Hoegeng justru semakin melekat sebagai representasi polisi yang bersih dan sulit tergantikan.
Hoegeng lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 14 Oktober 1921 dengan nama Imam Santoso. Sejak kecil, ia memiliki julukan "Bugel" karena tubuhnya yang gemuk. Seiring waktu, panggilan itu berubah menjadi "Bugeng" hingga akhirnya dikenal luas sebagai Hoegeng.
Dilansir dari kompas, Perjalanan pendidikannya dimulai dari HIS dan MULO di Pekalongan, kemudian melanjutkan ke AMS A Yogyakarta. Ia sempat menempuh pendidikan hukum di Recht Hoge School Batavia sebelum memilih jalan hidup sebagai aparat penegak hukum dengan masuk ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Setelah lulus pada 1952, Hoegeng mulai mengabdikan diri sebagai perwira polisi dan meniti karier melalui berbagai penugasan di sejumlah daerah.
Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menjabat Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia pada periode 1968 hingga 1971. Dalam masa kepemimpinannya, Hoegeng dikenal berani mengambil keputusan yang tak biasa. Ia menindak praktik perjudian, penyelundupan, hingga berbagai bentuk pelanggaran hukum tanpa memandang latar belakang pelakunya. Sikap tegasnya membuat ia kerap berhadapan dengan pihak-pihak yang memiliki kekuasaan maupun pengaruh politik.
Namun, ketegasan itu tidak pernah mengubah gaya hidupnya. Hoegeng tetap dikenal hidup sederhana. Ia menolak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi maupun keluarga. Berbagai kisah tentang penolakannya terhadap hadiah, fasilitas mewah, hingga intervensi kekuasaan menjadi cerita yang terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai teladan bagi anggota Polri.
Warisan terbesar Hoegeng bukanlah pangkat ataupun jabatan, melainkan kepercayaan publik yang dibangunnya melalui tindakan nyata. Hingga kini, ketika masyarakat berbicara mengenai sosok polisi yang ideal, nama Hoegeng hampir selalu menjadi rujukan. Ia menjadi pengingat bahwa kewibawaan aparat tidak lahir dari seragam atau kekuasaan, melainkan dari integritas yang dijaga setiap hari.
Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso meninggal dunia pada 14 Juli 2004 di Jakarta dalam usia 82 tahun. Meski telah berpulang lebih dari dua dekade lalu, keteladanan yang ia tinggalkan tetap hidup dan terus menjadi inspirasi bagi perjalanan reformasi kepolisian di Indonesia. Bagi banyak orang, Hoegeng bukan sekadar nama dalam sejarah, melainkan standar moral tentang seperti apa seharusnya seorang polisi mengabdi kepada negara dan masyarakat.
