Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Harga Minyak Dunia Kembali Tembus US$ 87 Imbas Memudarnya Harapan Kesepakatan Hormuz

Moh Wasil Haqqullah11 Agustus 202611.00 WIB
Harga Minyak Dunia Kembali Tembus US$ 87 Imbas Memudarnya Harapan Kesepakatan Hormuz

SUARBERITA.COM - Ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah kini kembali memberikan tekanan berat pada pasar energi global. Akibat memudarnya harapan kesepakatan Selat Hormuz, harga minyak mentah melonjak melampaui US$ 87 per barel.

Peristiwa lonjakan harga minyak dunia ini terjadi pada awal pekan transaksi perdagangan bursa energi internasional. Kegagalan negosiasi terbaru terkait pengamanan arus logistik dan pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz menjadi penyebab utama tren kenaikan tersebut. Selat Hormuz yang terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman merupakan urat nadi vital yang menyalurkan puluhan juta barel minyak mentah dunia setiap harinya.

Trump mengisyaratkan bahwa pemerintah AS lebih memilih mengandalkan blokade angkatan laut untuk menekan Teheran dibanding melancarkan gelombang serangan udara baru.

“Kami hanya mengamati Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak punya uang,” ujar Trump. Dikutip dari Liputan 6 Selasa (11/8/2026).

Pada penutupan perdagangan terakhir, pasar merespons negatif kebuntuan diplomasi antara pihak-pihak terkait. Para pelaku pasar minyak global, terutama para importir energi, segera meningkatkan pembelian kontrak berjangka sebagai langkah mitigasi risiko pasokan. Hal ini mendorong nilai komoditas emas hitam tersebut untuk langsung meroket menembus ambang batas psikologis US$ 87 per barel secara signifikan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa Amerika Serikat harus terlebih dahulu mencabut blokade lautnya sebelum Iran bersedia membuka Selat Hormuz sepenuhnya.

“Selama blokade angkatan laut AS masih berlanjut, syarat yang diperlukan untuk pembukaan kembali Selat Hormuz belum ada,” ungkap Baghaei

Para pelaku industri memproyeksikan bahwa stabilitas harga energi akan terus berfluktuasi tajam. Kebuntuan ini menuntut negara-negara pengimpor minyak untuk menyiapkan strategi cadangan energi di tengah ketidakpastian situasi geopolitik yang makin memanas. Oleh karenanya, pengawasan terhadap rute distribusi terus diperketat secara berkala oleh otoritas.

Meredupnya prospek kesepakatan strategis di Selat Hormuz menjadi katalis utama melonjaknya harga minyak dunia melampaui US$ 87. Kegagalan upaya diplomatik internasional memicu kekhawatiran besar terhadap keberlangsungan rantai pasokan global, sehingga menuntut para pemangku kepentingan untuk merumuskan kebijakan pertahanan energi darurat yang lebih responsif demi menjaga ketahanan ekonomi secara menyeluruh.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!