Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Harga Minyak Dunia Kembali Menguat, Harapan Damai AS-Iran Memudar usai Ketegangan di Timur Tengah Memanas

M Rayhan Wildani K20 Juni 202611.54 WIB
Harga Minyak Dunia Kembali Menguat, Harapan Damai AS-Iran Memudar usai Ketegangan di Timur Tengah Memanas

SUARBERITA.COM - Harapan pasar terhadap meredanya konflik di Timur Tengah kembali terguncang. Setelah sempat turun karena optimisme tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, harga minyak dunia kini kembali bergerak naik menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent pada perdagangan Jumat (19/6/2026) naik 51 sen atau 0,64 persen menjadi US$80,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat menguat US$1,28 atau 1,7 persen ke level US$77,88 per barel.

Kenaikan harga terjadi setelah pembicaraan lanjutan mengenai perdamaian AS dan Iran di Swiss dilaporkan batal berlangsung. Di saat yang sama, situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas menyusul meningkatnya serangan Israel ke wilayah Lebanon, sehingga memunculkan kekhawatiran baru terhadap pasokan energi dunia.

Sebelumnya, harga minyak sempat mengalami penurunan cukup tajam setelah muncul optimisme bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran akan membuka kembali jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Bahkan, sejumlah kapal tanker, termasuk kapal berbendera Arab Saudi yang membawa jutaan barel minyak mentah, telah kembali melintasi jalur tersebut.

Namun, para pelaku pasar masih menilai kondisi di kawasan belum sepenuhnya stabil.

"Para pedagang masih menunggu bukti konkret bahwa lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz benar-benar kembali normal sebelum berkomitmen pada penurunan harga selanjutnya," kata Kepala Analis Pasar KCM, Tim Waterer Dilansir dari detik.

Di sisi lain, ketidakpastian juga meningkat setelah pembicaraan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran dikabarkan batal digelar menyusul pembatalan perjalanan Wakil Presiden AS JD Vance. Kondisi itu membuat pasar kembali mempertimbangkan potensi gangguan terhadap pasokan minyak global.

Pendiri Vanda Insights, Vandana Hari, menilai harga minyak berpotensi kembali bergerak fluktuatif apabila situasi geopolitik tidak segera membaik.

"Harga mungkin telah mencapai titik terendah dan kita mungkin akan melihat kenaikan kembali yang disertai dengan banyak volatilitas karena keretakan telah muncul dalam nota kesepahaman," ujarnya.

Pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi di Timur Tengah. Selama konflik belum benar-benar mereda, pasar energi global diperkirakan akan tetap dibayangi ketidakpastian yang berpotensi memicu naik-turunnya harga minyak secara tajam.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!