SUARBERITA.COM - Pasar energi global kembali terguncang setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan keras mengenai kesepakatan damai dengan Iran, memicu kekhawatiran baru akan stabilitas pasokan minyak dunia di tengah ketegangan yang berlanjut.
Harga minyak mentah Brent tercatat ditutup naik 59 sen atau 0,75% menjadi US$ 79,55 per barel. Senada, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 74 sen atau 0,97% ke level US$ 76,79 per barel. Kenaikan ini terjadi pasca-pernyataan Trump yang menegaskan bahwa nota kesepahaman gencatan senjata dengan Iran belum bersifat final. Trump bahkan mengancam akan melanjutkan pengeboman jika Teheran tidak menunjukkan sikap yang diinginkan Washington.
Kondisi ini memicu respons pasar terhadap ketidakpastian hubungan AS-Iran. Analis pasar dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menyatakan, "Masih ada sedikit ketidakpastian terkait situasi AS. Wajar jika harga minyak memantul dari level saat ini setelah mengalami penurunan yang cukup tajam dalam beberapa hari terakhir." Dikutip dari liputan6 Kamis (18/6/2026).
Ketegangan kian diperburuk dengan laporan serangan udara dan drone antara Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan, meski sebelumnya telah disepakati penghentian permusuhan. Di sisi pasokan, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan cadangan minyak mentah AS turun selama 10 pekan berturut-turut, mencapai level terendah sejak 1985 akibat gangguan dari konflik Timur Tengah.
Meskipun harga minyak melonjak akibat risiko geopolitik jangka pendek, tantangan berbeda menanti di masa depan. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan potensi surplus pasokan signifikan pada 2027. Analis riset Empire FX, Crispus Nyaga, memperingatkan bahwa pasar saat ini kemungkinan masih meremehkan besarnya risiko kelebihan pasokan yang akan datang.

