Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Gencatan Senjata Kembali Memanas, AS Tuding Iran Langgar Kesepakatan di Selat Hormuz

M Rayhan Wildani K27 Juni 202610.00 WIB
Gencatan Senjata Kembali Memanas, AS Tuding Iran Langgar Kesepakatan di Selat Hormuz

SUARBERITA.COM - Harapan agar konflik di Timur Tengah mulai mereda kembali diuji. Di tengah upaya menjaga gencatan senjata, Amerika Serikat menuding Iran melanggar kesepakatan damai setelah diduga menyerang sebuah kapal kargo yang melintas di Selat Hormuz. Insiden itu memicu aksi balasan dari Washington dan kembali meningkatkan ketegangan di kawasan yang menjadi jalur vital perdagangan dunia.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan militer yang dilakukan pasukan AS merupakan respons atas dugaan agresi Iran terhadap pelayaran komersial. Dalam operasi tersebut, AS mengklaim telah menghantam lokasi penyimpanan rudal, drone, serta radar pesisir milik Iran.

"Respons tegas terhadap serangan kemarin terhadap sebuah kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz," tegas CENTCOM dalam pernyataannya, Sabtu dilansir dari detik (27/6).

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut serangan drone Iran sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati. Wakil Presiden JD Vance bahkan memperingatkan bahwa setiap aksi lanjutan dari Teheran akan mendapat balasan yang setimpal.

Namun Iran membantah tinggal diam. Beberapa jam setelah serangan AS, media pemerintah Iran melaporkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Teheran juga mengirim sinyal bahwa respons yang lebih besar akan dilakukan jika serangan kembali terjadi.

"Jika agresi berulang, respons kami akan lebih luas daripada ini," tegas IRGC.

Situasi ini membuat masa depan gencatan senjata kembali berada di ujung tanduk. Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia, kembali dibayangi ancaman gangguan keamanan. Di tengah saling serang kedua negara, upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik secara permanen kini menghadapi tantangan yang semakin berat, sementara dunia terus mencermati apakah eskalasi ini akan berhenti atau justru berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!