F1 merupakan olahraga balap yang dulunya hanya dapat
dinikmati oleh orang-orang kelas atas seperti Tennis, Golf, Polo yang bisa
dikenal dengan sebutan Luxury Sport. Namun, semenjak 2017 F1 diambil alih oleh
Liberty Media yang dimana sampai saat ini dapat dinikmati untuk semua kalangan
tidak hanya atmosfer glamor. Hal ini juga dipicu oleh munculnya series Drive to Survive di netflix .
Namun dalam
diplomasi kontemporer olahraga global diinterpretasikan sebagai sarana “soft
power” dimana hal ini menjadi salah satu cara suatu negara atau aktor
non-negara membangun citra dan memperkuat reputasi internasional tanpa adanya
penggunaan kekuatan militer. Contohnya Negara Timur Tengah, Asia
Tenggara, Amerika Serikat. Akan tetapi, penggunaan F1 sebagai alat diplomasi
tidak selalu netral. Bisa jadi event ini hanya dipakai untuk “sportwashing” yang dimana negara atau
rezim dengan catatan Hak Asasi Manusia atau reputasi kontroversial untuk
memoles citra mereka dengan sport untuk mengalihkan perhatian terhadap isu
domestik.
Fenomena sportwashing menggunakan Formula 1 ini dimulai dari Negara Bahrain sebagai Negara pertama di Timur Tengah yang menjadi tuan rumah ajang Formula 1 dengan nama Bahrain Grand Prix (GP Bahrain) sejak 2004 yang diselenggarakan di Sirkuit Internasional Bahrain, Sakhir. Pada GP Bahrain ini balapan Formula 1 menjadi kontroversial dimana pemerintah Bahrain melakukan pengalihan isu pelanggaran HAM yang terjadi disana. Bahkan pada 2011 GP Bahrain dibatalkan karena adanya Demonstrasi Bahrain 2011 pada masa Arab Spring. Lalu pada 2012, kelompok aktivis Ham melakukan demonstrasi yang menuntut pembatalan GP Bahrain 2012 karena adanya kasus pembunuhan aktivis bernama Salah Abbas Habib. Hal ini kemudian diperparah dengan terbunuhnya jurnalis foto bernama Ahmad Ismail Hasan yang pada saat itu sedang meliput demonstrasi di GP Bahrain 2012.
Hal tersebut
lah yang membuat Sportwashing menjadi
sebuah alat strategi pencitraan untuk memanipulasi ingatan kolektif dimana
adanya sejarah yang dipelintir. Dimana perlombaan bukan hanya mobil, namun juga
upaya rezim untuk pengalihan perhatian publik terkait problem di sebuah Negara.

