Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Sport

Formula 1 dan Globalisasi Budaya

Chaterina R11 Februari 202614.10 WIB
Formula 1 dan Globalisasi Budaya

F1 merupakan olahraga balap yang dulunya hanya dapat dinikmati oleh orang-orang kelas atas seperti Tennis, Golf, Polo yang bisa dikenal dengan sebutan Luxury Sport. Namun, semenjak 2017 F1 diambil alih oleh Liberty Media yang dimana sampai saat ini dapat dinikmati untuk semua kalangan tidak hanya atmosfer glamor. Hal ini juga dipicu oleh  munculnya series Drive to Survive di netflix .

            Namun dalam diplomasi kontemporer olahraga global diinterpretasikan sebagai sarana “soft power” dimana hal ini menjadi salah satu cara suatu negara atau aktor non-negara membangun citra dan memperkuat reputasi internasional tanpa adanya penggunaan kekuatan militer. Contohnya Negara Timur Tengah, Asia Tenggara, Amerika Serikat. Akan tetapi, penggunaan F1 sebagai alat diplomasi tidak selalu netral. Bisa jadi event ini hanya dipakai untuk “sportwashing” yang dimana negara atau rezim dengan catatan Hak Asasi Manusia atau reputasi kontroversial untuk memoles citra mereka dengan sport untuk mengalihkan perhatian terhadap isu domestik.

            Fenomena sportwashing menggunakan Formula 1 ini dimulai dari Negara Bahrain sebagai Negara pertama di Timur Tengah yang menjadi tuan rumah ajang Formula 1 dengan nama Bahrain Grand Prix (GP Bahrain) sejak 2004 yang diselenggarakan di Sirkuit Internasional Bahrain, Sakhir. Pada GP Bahrain ini balapan Formula 1 menjadi kontroversial dimana pemerintah Bahrain melakukan pengalihan isu pelanggaran HAM yang terjadi disana. Bahkan pada 2011 GP Bahrain dibatalkan karena adanya Demonstrasi Bahrain 2011 pada masa Arab Spring. Lalu pada 2012, kelompok aktivis Ham melakukan demonstrasi yang menuntut pembatalan GP Bahrain 2012 karena adanya kasus pembunuhan aktivis bernama Salah Abbas Habib. Hal ini kemudian diperparah dengan terbunuhnya jurnalis foto bernama Ahmad Ismail Hasan yang pada saat itu sedang meliput demonstrasi di GP Bahrain 2012.

            Hal tersebut lah yang membuat Sportwashing menjadi sebuah alat strategi pencitraan untuk memanipulasi ingatan kolektif dimana adanya sejarah yang dipelintir. Dimana perlombaan bukan hanya mobil, namun juga upaya rezim untuk pengalihan perhatian publik terkait problem di sebuah Negara.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!