Perang 12 hari antara Israel dan
Iran yang berlangsung pada 13-24 Juni 2025 yang diawali oleh serangan udara
Israel pada 13 Juni 2025. Kini semakin memanas di antara Iran dan Amerika
bersama Israel. Seperti yang dikutip KompasTv,
Minggu, 1 Maret 2026 , serangan Amerika dan ke sejumlah lokasi di Iran,
termasuk kota Teheran. Serangan terjadi di tengah negosiasi terkait program
nuklir dan rusak balistik Iran, setelah berminggu- minggu ancaman yang
meningkat dari Washington.
Dengan
terjadinya Perang Dunia II yang berakhir pada tahun 1945. Yang telah menjadi
peristiwa paling berdampak dalam sejarah dunia. Perang Dunia II telah
melibatkan 30 negara dan menyebabkan kematian lebih dari 50 juta orang ini
menciptakan dinamika baru dalam hubungan internasional. Hubungan kedua negara
antara Iran dan AS dimulai relatif dekat setelah Perang Dunia II, terutama
karena minyak dan kepentingan strategis. Hubungan ini hancur setelah Revolusi
Islam Iran 1979 yang menggulingkan Shah yang didukung AS. Sejak itu, AS dan
Iran menjadi musuh yang tajam, Iran menyebut AS sebagai “Great Satan”.
Lalu
terjadinya transformasi hubungan Israel-Iran terjadi setelah Revolusi Islam
1979. Dimana pemerintahan baru Iran memutus seluruh hubungan diplomatik dengan
Israel dan menjadi anti-Zionisme sebagai bagian dari identitas politik negara.
Israel tidak lagi dipandang sebagai mitra strategis, melainkan sebagai lawan
ideologis dan politik. Semenjak saat itu, hubungan kedua negara bergerak dalam
pola permusuhan yang dipengaruhi faktor ideologi, keamanan, dan perebutan
pengaruh regional.
Kemudian,
inti dari meletusnya konflik 13 Juni 2025 antara Iran dan Israel adalah
kekhawatiran Israel terhadap program nuklir Iran. Didukung oleh Amerika
Serikat. Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir. Berdasarkan laporan
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) pada 2024. Iran memperkaya uranium
hingga mencapai 60% dimana hal ini memungkinkan untuk pembuatan senjata nuklir,
dilansir dari Winni Code, Kamis, 19
Juni 2025. Konflik langsung pecah ketika Israel melakukan serangkaian serangan
udara ke Iran, termasuk ke Teheran, yang mengakibatkan banyak korban sipil dan
militer.
Persaingan
geopolitik, intervensi militer regional, rivalitas ekonomi antara kekuatan
besar, serta retorika konfrontatif semuanya berkontribusi pada atmosfer
ketidakpastian internasional. Dimana ancaman ini terjadi karena konflik skala
besar semakin meningkat. Meletus atau tidaknya menjadi perang dunia bergantung
pada keputusan politik, diplomasi aktif, dan upaya komunitas internasional
dalam meredakan ketegangan yang terjadi.

