SUARBERITA.COM - Gelombang panas yang melanda Eropa dan dilaporkan menewaskan lebih dari 1.300 orang memunculkan pertanyaan: mengapa suhu sekitar 40 derajat Celcius bisa sangat mematikan di Eropa, sementara negara-negara Arab yang juga panas tetap dapat beraktivitas relative normal?
Jawabannya bukan semata soal angka suhu, melainkan kemampuan beradaptasi terhadap kondisi iklim.
Di kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara sekitarnya, suhu tinggi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama puluhan tahun. Infrastruktur, bangunan, sistem pendingin, hingga pola aktivitas masyarakat dirancang untuk menghadapi panas ekstrem. Aktivitas luar ruangan juga umumnya menyesuaikan waktu yang lebih aman.
Sementara itu, sebagian besar wilayah Eropa berkembang dengan orientasi menghadapi cuaca dingin, bukan membuang panas saat musim panas. Penggunaan pendingin ruangan juga relatif lebih rendah dibanding negara-negara gurun.
Faktor lain yang memperparah adalah suhu malam yang tetap tinggi. Normalnya, tubuh manusia memulihkan diri saat temperature turun pada malam hari. Ketika malam tetap panas selama beberapa hari berturut-turut, risiko dehidrasi, kelelahan panas, hingga gangguan kesehatan meningkat, terutama pada lansia dan kelompok rentan.
Kelembapan udara di sejumlah wilayah Eropa juga membuat tubuh lebih sulit mendinginkan diri melalui penguapan keringat.
Namun, gelombang panas paling mematikan di Eropa modern masih tercatat pada 2003 dengan estimasi sekitar 70 ribu korban jiwa. Namun gelombang panas 2026 mulai disebut sebagai salah satu yang paling ekstrem dalam beberapa tahun terakhir karena cakupan wilayah dan dampaknya yang luas.

