Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

DPRD Minta Pemprov DKI Optimalkan RDF Rorotan, jangan Bergantung ke Bantargebang

Maindarto Sukowati11 Maret 202611.47 WIB
DPRD Minta Pemprov DKI Optimalkan RDF Rorotan, jangan Bergantung ke Bantargebang

Jakarta – INSIDEN longsor sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, harus menjadi bahan evaluasi Pemerintah DKI Jakarta. Peristiwa tersebut menyebabkan Tujuh orang kehilangan nyawa.

Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD DKI Jakarta, M. Fuadi Luthfi, meminta Gubernur Pramono Anung untuk memaksimalkan Refuse Derived Fuel atau RDF Rorotan, dalam pengolahan sampah. Menurutnya, pemerintah daerah belum maksimal dalam memanfaatkannya.

Bahkan kalau Gubernur menargetkan seribu ton perhari untuk diolah RDF Plant Rorotan, menurutnya ini sama saja sebagai pengakuan belum maksimalnya pemerintah mengelola proyek Rp 1,28 triliun tersebut. Sebab, jelasnya, sejak awal fasilitas tersebut dirancang mengolah 2.500 ton sampah perhari, dan kini baru berjalan 40 persen dari kapasitasnya. kata Fuadi, Senin 9 Maret 2026.

Menurut Fuadi, tiga lapis kegagalan yang saling terkait dalam pengelolaan RDF Rorotan ini. Pertama, kegagalan perencanaan teknis. Jelas dia, teknologi RDF dibangun untuk mengolah sampah yang sudah terpilah dan relatif kering. Sedangkan sampah Jakarta yang datag ke sana masih basah dan bercampur. Maka mesin bekerja dua kali, memilah dan mengolah sehingga hasilnya tidak optimal.

untuk Jakarta Menurutnya, ini menjadi konsekuensi dari keputusan membangun teknologi hilir tanpa menyiapkan sistem pemilahan di hulu.

Kedua, kegagalan pengawasan kontrak. Dalam hal ini, dia menyoroti terkait sanksi kontraktual yang tidak pernah disampaikan ke publik. Walau diduga ada pelanggaran terhadap SOP.

Ketiga, kegagalan komunikasi kepada warga. Dia melihat, tidak ada informasi yang jujur dan proaktif sejak awal untuk langkah preventif ke rakyat sekitar Rorotan Jakarta Utara, yang terdampak.

“Tiga kegagalan itu bukan kebetulan yang datang bersamaan. Itu cerminan dari proyek yang dari awal tidak dikelola dengan serius. Dibangun terburu-buru, dibayar lunas di muka, lalu ketika bermasalah publik diminta bersabar,” ujarnya. Dirinya juga menyoroti bahwa 7.400 hingga 8 ribu ton sampah yang dihasilkan Jakarta setiap harinya. Bila operasional RDF Rorotan hanya seribu ton sehari, maka hanya 12-13 persen yang mampu dikelola dari total sampah ibukota. Angka ini, menurutnya jauh dari target yakni memangkas 30 persen dari beban TPST Bantargebang. Sedangkan kapasitas Bantargebang menurutnya sudah lebih dan menumpuk

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!