SUARBERITA.COM – Pasca kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL Commuter Line Cikarang di Stasiun Bekasi Timur akibat signal error dan sebelumnya KRL Commuter Line Cikarang menabrak taksi listrik Green SM yang berhenti di tengah rel kereta, terdapat kemunculan kereta Djoko Tingkir yang melayani wilayah daerah operasi (Daop) 1 Jakarta. Djoko Tingkir termasuk kereta penolong atau NoodHulp Rijtuig selalu muncul setelah terjadi kecelakaan. Lantas, bagaimana asal-usul kereta yang muncul setelah kecelakaan terjadi?
Dilansir dari akun resmi KRL Commuter Line, kereta penolong atau NoodHulp Rijtuig sudah menjadi garda terdepan dalam penanganan keadaan darurat perkeretaapian sejak zaman kolonial Belanda sekitar tahun 1870-an. Kereta ini selalu siap siaga ketika terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan. Selain itu, kereta ini dirancang sebagai bengkel berjalan karena membawa peralatan berat, kru teknis, hingga menjadi sarana evakuasi saat terjadi Peristiwa Luar Biasa Hebat (PLH).
Keberadaan kereta ini hingga sekarang sangat bermanfaat untuk mempercepat pemulihan jalur agar perjalanan kereta bisa kembali aman dan lancar. Dari masa ke masa, kereta ini tetap melayani dan menjaga keselamatan perjalanan KRL Commuter Line. Setelah kecelakaan yang baru saja terjadi pada Senin (27/4), kereta penolong atau NoodHulp Rijtuig bernama Djoko Tingkir melaksanakan tugasnya untuk menangani korban kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line Cikarang.
