SUARBERITA.COM - Teknologi nuklir selama ini identik dengan bom berkekuatan dahsyat. Namun di Indonesia, teknologi tersebut mulai diposisikan sebagai salah satu penopang transisi energi nasional menuju target net zero emission (NZE) 2060.
Pemerintah memasukkan energi nuklir dalam strategi bauran energi nasional. Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), kontribusi energi nuklir ditargetkan mencapai 4 hingga 5 persen pada 2050. Untuk mendukung target tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng Badan Geologi guna menyiapkan tapak pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama di Indonesia.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, mengatakan proses evaluasi lokasi masih berada pada tahap awal atau desk evaluation sehingga memerlukan kajian lebih mendalam.
“Saat ini, evaluasi beberapa tapak masih bersifat awal atau desk evaluation. Karena itu, penting bagi kita untuk menyamakan persepsi. Kajian yang lebih mendalam akan dilanjutkan pada tahap berikutnya sesuai standar yang berlaku,” ujar Syaiful dikutip CNN, Sabtu (16/5/2026).
Dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024, kapasitas pembangkit listrik menuju NZE 2060 diproyeksikan mencapai 443 gigawatt. Sekitar 7,9 persen di antaranya berasal dari PLTN dengan kapasitas sekitar 35 gigawatt.
Selain menyiapkan PLTN, BRIN juga mengembangkan bahan bakar nuklir berbasis sumber daya lokal. Peneliti BRIN, Ade Saputra, bersama tim mengembangkan teknologi pemurnian uranium dari pasir monasit, limbah hasil penambangan timah.
“Jika pemisahan ini berhasil, kita tidak hanya menyelesaikan masalah limbah radioaktif, tetapi juga memperoleh bahan bakar nuklir dari sumber domestik,” kata Ade.
Pengembangan PLTN dan riset bahan bakar lokal dinilai tepat. Apalagi, di tengah Indonesia yang perlu membangun kemandirian energi berbasis sumber daya dalam negeri.

