Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Badan Kehormatan DPRD Jember Memberikan Pandangan Terkait Polemik Anggota Legislatif yang Merokok saat Rapat

Moh Wasil Haqqullah20 Mei 202610.42 WIB
Badan Kehormatan DPRD Jember Memberikan Pandangan Terkait Polemik Anggota Legislatif yang Merokok saat Rapat

SUARBERITA.COM - Aksi seorang anggota DPRD Kabupaten Jember yang terekam merokok sambil bermain game saat rapat resmi memicu kontroversi di tengah masyarakat. Menanggapi kegaduhan tersebut, Badan Kehormatan (BK) DPRD Jember akhirnya angkat bicara untuk meluruskan sudut pandang publik mengenai aktivitas merokok di lingkungan parlemen daerah tersebut.

Ketua BK DPRD Jember, Mohammad Hafidi, mengungkapkan bahwa dirinya menerima banyak masukan dan protes dari masyarakat setelah video legislator bernama Achmad Syahri Assidiqi viral. Syahri kedapatan merokok dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi D yang sebenarnya sedang membahas isu krusial seperti penanganan stunting dan kesehatan.

Hafidi menjelaskan terjadi perdebatan di masyarakat. Sebagian warga mempertanyakan mengapa merokok di dalam rapat dipersoalkan, sementara aktivitas makan dan minum kopi bersama dianggap wajar. Menurut Hafidi, kebiasaan merokok di Jember tidak bisa disamakan dengan wilayah lain ataupun sekadar dinilai dari sudut pandang kesehatan semata.

Hafidi menambahkan bahwa "Di lain pihak masyarakat menyampaikan, apa bedanya merokok dengan menyediakan kopi ketika rapat? Apa bedanya rapat sambil makan-makan?" Dilansir dari kompas.com, Minggu (17/05/2026).

Politisi PKB ini menegaskan bahwa tembakau merupakan urat nadi perekonomian sekaligus identitas sosial warga lokal. Jember bahkan dijuluki sebagai Kota Tembakau, di mana daun tembakau secara resmi disematkan di dalam lambang Pemerintah Kabupaten Jember sebagai simbol sumber penghidupan utama masyarakat. Oleh karena itu, ia menilai dinamika ini bukan sekadar masalah "apes" atau ketidakberuntungan, melainkan kultur daerah yang melekat kuat.

Kasus viralnya anggota dewan yang merokok saat rapat menunjukkan adanya benturan antara etika formal persidangan dan realitas budaya lokal. Meskipun tembakau bernilai filosofis dan ekonomis tinggi bagi masyarakat Jember, BK DPRD diharapkan tetap mampu menyeimbangkan penghormatan terhadap identitas daerah dengan penegakan tata tertib serta marwah lembaga legislatif yang profesional.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!