SUARBERITA.COM - Hujan yang kembali mengguyur sejumlah wilayah Jakarta dalam beberapa hari terakhir memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat. Pasalnya, Indonesia, termasuk wilayah DKI Jakarta, saat ini telah memasuki musim kemarau. Lalu, mengapa hujan masih turun?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena tersebut bukan berarti musim kemarau telah berakhir. Hujan masih berpotensi terjadi akibat kondisi atmosfer di wilayah Jabodetabek yang masih mendukung terbentuknya awan hujan.
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, mengatakan intensitas hujan diperkirakan mulai berkurang dalam beberapa hari ke depan.
"Dalam tiga hari ke depan, potensi hujan di wilayah Jakarta cenderung menurun dibandingkan kondisi hujan hari ini," kata Ida, Rabu dikutip dari detik.
Menurut BMKG, secara global maupun regional tidak terdapat faktor cuaca yang signifikan memicu pembentukan awan konvektif. Namun, kondisi atmosfer di tingkat lokal masih cukup lembap, terutama pada lapisan udara 850–500 milibar, sehingga peluang terbentuknya awan hujan tetap ada.
"Dari faktor cuaca skala lokal, kondisi kelembapan relatif di lapisan 850-500 mb cukup basah, kondisi atmosfer yang labil dan potensi konvektif kuat mendukung pertumbuhan awan hujan di Jabodetabek," jelas Ida.
BMKG juga menyebut saat ini tengah berlangsung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Jawa Barat sebagai langkah antisipasi kekeringan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
Fenomena hujan di tengah musim kemarau sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya tidak biasa. Dalam periode kemarau, hujan lokal masih dapat terjadi ketika kelembapan udara tetap tinggi dan atmosfer berada dalam kondisi labil. Meski demikian, durasi dan cakupannya umumnya lebih terbatas dibandingkan saat musim hujan.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap mewaspadai perubahan cuaca dalam beberapa hari ke depan. Di satu sisi, sebagian wilayah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, sementara di sisi lain ancaman musim kemarau seperti kekeringan dan kebakaran hutan masih menjadi perhatian di sejumlah daerah Indonesia.
