SUARBERITA.COM - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa kemajuan besar dalam kehidupan manusia. Namun, di balik teknologi yang semakin canggih, terdapat kebutuhan sumber daya yang tidak kecil. Pusat pengolahan data atau data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan ribuan server, sekaligus air untuk membantu menjaga suhu mesin agar tetap stabil.
Persoalan ini semakin nyata ketika kebutuhan energi industri AI mulai melampaui kemampuan infrastruktur listrik di sejumlah wilayah. Bahkan, perusahaan teknologi kini mencari cara alternatif untuk memasok energi bagi pusat data mereka.
Badan Energi Internasional (IEA) mencatat konsumsi listrik pusat data global mencapai hampir 500 terawatt-jam (TWh) sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat lebih dari 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data dapat meningkat dua kali lipat pada 2030, sementara pusat data yang berfokus pada AI berpotensi mengalami peningkatan kebutuhan listrik hingga tiga kali lipat.
Kebutuhan listrik itu tidak hanya berasal dari proses komputasi. Server dan perangkat berkapasitas tinggi menghasilkan panas ketika bekerja, sehingga membutuhkan sistem pendingin agar tidak mengalami gangguan atau kerusakan.
Di sinilah kebutuhan air ikut menjadi persoalan. Sejumlah pusat data menggunakan sistem pendingin berbasis air, termasuk menara pendingin yang melepaskan sebagian air melalui proses penguapan. Selain pemakaian langsung untuk pendinginan, air juga dibutuhkan dalam proses pembangkitan listrik dan produksi semikonduktor.
IEA memperkirakan konsumsi air global yang berkaitan dengan pusat data mencapai sekitar 560 miliar liter per tahun dan berpotensi meningkat menjadi 1,2 triliun liter pada 2030. Besarnya penggunaan air berbeda-beda, bergantung pada teknologi pendingin, lokasi, iklim, serta sumber energi yang digunakan.
Tekanan kebutuhan energi bahkan mendorong perusahaan mencari solusi yang tidak biasa. Sejumlah pusat data AI di Amerika Serikat mulai memanfaatkan mesin jet pesawat bekas yang diubah menjadi turbin pembangkit listrik berbahan bakar gas alam.
Salah satu mesin yang digunakan berasal dari keluarga mesin GE yang dikenal dipakai pada pesawat Boeing 747. Mesin tersebut direkayasa ulang agar dapat menghasilkan listrik untuk memasok kebutuhan pusat data. Perusahaan xAI, misalnya, dilaporkan memasang delapan turbin hasil konversi untuk mendukung operasional pusat data Colossus 2 di Mississippi.
Namun, solusi tersebut menyimpan konsekuensi lingkungan. Mesin jet yang dikonversi dinilai kurang efisien dan menghasilkan polusi lebih besar dibandingkan turbin gas yang memang dirancang untuk pembangkit listrik.
Kondisi ini memperlihatkan dilema di balik pesatnya perkembangan AI. Teknologi tersebut menawarkan efisiensi dan peluang baru, tetapi infrastruktur yang menopangnya membutuhkan energi dan sumber daya alam dalam skala besar.
Tantangannya bukan sekadar membangun lebih banyak pusat data, melainkan memastikan kebutuhan listrik dan airnya dapat dipenuhi tanpa memperbesar tekanan terhadap lingkungan. Kemajuan teknologi pada akhirnya perlu diukur bukan hanya dari kecanggihan yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa berkelanjutan sumber daya yang digunakan.

